BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Indonesia merupakan negara pertanian sebab
perekonomian di Negara Indonesia lebih banyak berasal dari sektor pertanian,
dan hal itu dapat kita lihat dari besarnya kesempatan kerja dan besarnya jumlah
penduduk yang masih tergantung pada sektor pertanian (Adi sasmita, 2006).
Sebagian besar mata pencaharian penduduk di
Indonesia adalah berasal dari sektor peertanian. Sektor ini memberi sumbangan
yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) (Firdaus, 2012).
Pembangunan pertanian ditujukan untuk
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, memperluas lapangan kerja dan
kesempatan berusaha agar pertanian dapat menjadi maju, efisien dan tangguh.
Sehingga mampu meningkatkan mutu panen. Sebagaimana yang ditetapkan dalam pasal
33 UUD 1945 tentang perekonomian Nasional dan kesejahteraan sosial yaitu:
a.
Perekonomian
disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas
kekeluargaan.
b.
Cabang-cabang produksi yang penting bagi Negara dan yang
menguasai hajat hidup orang bayak dikuasaai oleh Negara
c.
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya
dikuasai oleh negara dan digunakan untuk sebesar besar kemakmuran rakyat.
Pemerintah
sebagai penggerak dari pembangunan bidang pertanian dengan kebijaksanaanya
menyediakan teknologi pertanian serta sarana dan pra sarana seperti mengadakan
pengadaan intensifikasi. melalui program ini pemerintah juga memberikan kredit
untuk modal disertai tindakan penyaluran pupuk dan penyuluhan pertanian.
(Departemen Pertanian, 1996).
Indonesia
adalah negara agraris tetapi saat ini petani menjadi pekerjaan yang dipandang
sebelah mata dan profesi kelas dua di masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut
berakibat pada semakin ditinggalkannya sektor pertanian oleh angkatan kerja
karena memiliki masa depan kurang menguntungkan.
Masalah
pertanian di Indonesia disebabkan oleh kebijakan pertanian yang lebih
memfokuskan pada peningkatan produksi pertanian dan kurang memperhatikan
kualitas hidup para petani. Keberpihakan pada petani sangat kurang dan nilai
tambah pertanian justru tidak dinikmati para petani. Alih-alih meningkatkan
produksi yang terjadi justru semakin terpuruknya sektor pertanian maupun
petani.
1.2.
Rumusan
Masalah
1.
Untuk
mengetahui hambatan apa saja yang ditemui untuk pembangunan pada sektor
pertanian.
2.
Untuk
mengetahui solusi pembangunan sektor pertanian.
1.3.
Tujuan
1.
Dapat
mengetahui hambatan dan solusi dalam pembangunan sektor pertanian di Indonesia.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian
Pertanian.
Secara umum pengertian dari pertanian adalah suatu
kegiatan manusia yang termasuk didalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan,
perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar mata pencaharian masyarakat di
Indonesia adalah sebagai petani, sehingga sektor pertanian sangat penting untuk
dikembangkan.
Pengertian pertanian dalam arti sempit hanya mencakup
pertanian sebagai budidaya penghasil tanaman pangan, ditinjau
lebih jauh kegiatan pertanian dapat menghasilkan tanaman maupun hewan ternak
demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia. Sedangkan pengertian pertanian yang dalam arti luas tidak
hanya mencakup pembudidayaan tanaman saja melainkan membudidayakan serta
mengelola dibidang perternakan seperti merawat dan membudidayakan hewan ternak (Bukhori,
2014).
Menurut Totok
Mardikanto (2007) Pertanian
merupakan sektor ekonomi yang utama di negara
berkembang. peran atau kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi
suatu negara menduduki posisi yang penting.
Pratomo (2010)
mengatakan hal ini antara lain disebabkan beberapa faktor yakni:
a.
Sektor
pertanian merupakan sumber persediaan bahan makanan dan bahan mentah yang
dibutuhkan oleh suatu Negara.
b.
Tekanan-tekanan
demografis yang 13 besar
di negara-negara berkembang yang disertai dengan meningkatnya pendapatan dari
sebagian penduduk menyebabkan kebutuhan tersebut terus meningkat.
c.
Sektor
pertanian harus dapat menyediakan faktor-faktor yang dibutuhkan untuk ekspansi
sektor-sektor lain terutama sektor industri. Faktor-faktor ini biasanya
berwujud modal, tenaga kerja, dan bahan mentah.
d.
Sektor
pertanian merupakan sektor basis dari hubungan-hubungan pasar yang penting
berdampak pada proses pembangunan. Sektor ini dapat pula menciptakan
keterkaitan kedepan dan keterkaitan kebelakang yang bila disertai dengan
kondisi-kondisi yang tepat dapat memberi sumbangan yang besar untuk
pembangunan.
e.
Sektor
ini merupakan sumber pemasukan yang diperlukan untuk pembangunan dan sumber
pekerjaan dan pendapatan dari sebagian besar penduduk negara-negara berkembang
yang hidup di pedesaan.
2.2.
Peranan Sektor Pertanian
Sumbangan
atau jasa sektor pertanian pada pembangunan ekonomi terletak dalam hal yaitu:
a. Menyediakan surplus pangan yang semakin
besar kepada penduduk yang kian meningkat.
b. Meningkatkan permintaan akan produk
industri dan dengan demikian mendorong keharusan diperluasnya sektor sekunder
dan tersier.
c. Menyediakan tambahan penghasilan devisa
untuk impor barang-barang modal bagi pembangunan melalui eksport hasil
pertanian terus-menerus.
d. Meningkatkan pendapatan desa untuk
dimobilisasi pemerintah.
e. Memperbaiki kesejahteraan masyarakat.
Pada negara berkembang produksi pangan mendominasi sektor pertanian. Jika
output membesar lantaran meningkatnya produktifitas, maka pendapatan para
petani akan meningkat. Kenaikan pendapatan perkapita akan sangat meningkatkan
permintaan pangan. Dalam perekonomian seperti itu elastisitas pendapatan
permintaan adalah sangat tinggi yang bisanya bergerak antara 0,6 persen sampai
0,8 persen.
Peran nyata
sektor pertanian sebagai tumpuan pembangunan ekonomi nasional pada masa krisis
dan selama pemulihan ekonomi, maka sektor pertanian perlu diposisikan sebagai
sektor andalan dan didukung secara konsisten dengan mengembangkan ekonomi yang
bersifat resource based. Atas dasar tersebut, potensi perekonomian pedesaan
diharapakan akan menjadi determinan dari perekonomian nasional secara
keseluruhan dan dengan demikian perubahan yang terjadi pada struktur
perekonomian pedesaan perlu dicermati terutama dampaknya terhadap struktur
kesempatan kerja dan pendapatan di wilayah pedesaan (Resthiningrum, 2011).
2.3. Pembangunan Pertanian.
Pembangunan pertanian
merupakan bagian integral dari
pembangunan ekonomi dan masyarakat secara umum. Hal ini dimaksudkan bahwa
pembangunan pertanian menjamin pembangunan menyeluruh (overall development)
bersifat umum, dimana
penduduk yang hidup bertani jumlahnya besar di berbagai negara dan dalam
beberapa tahun mendatang akan terus hidup bertani (Mosher, 1981).
Untuk melaksanakan
pembangunan pertanian tidak
dapat hanya oleh petani saja tetapi lebih lanjut, makin
lama petani makin tergantung pada pihak- pihak di luar, seperti untuk memenuhi
kebutuhan pupuk, bibit unggul, saluran irigasi, obat-obatan, alat mesin
pertanian dan
lain-lain. Demikian pula hasilnya harus dijual ke pasar, pengetahuan
diperoleh dari sekolah atau universitas, dinas pertanian, petugas penyuluh
lapangan dan sebagainya. Dengan demikian agar sektor pertanian dapat maju
diperlukan interaksi yang positif antara bidang pertanian dengan bidang-bidang
lainnya (Hadisapoetro, 1973).
Dalam membangun pertanian, Mosher (1981) menyebutkan tidak
bisa lepas dari penggunaan teknologi baru. Hal ini disebabkan karena preferensi
konsumen akan produk pertanian sangat dinamis atau cepat berubah. Berkaitan
dengan hal itu, lima faktor pokok yang perlu diperhatikan dan senantiasa
dipenuhi dalam pembangunan pertanian, yaitu :
a) Adanya pasar
produk pertanian.
b) Adanya
teknologi yang selalu berubah yang dikuasai petani.
c) Adanya
ketersediaan sarana produksi secara lokal.
d) Adanya
insentif produksi bagi petani.
e) Adanya
transport yang memadai.
Indonesia terdapat sistem dualisme ekonomi atau dua
sistem ekonomi yang berbeda, namun berdampingan kuat. Orang-orang Indonesia
pada dasarnya bersifat tradisional dan kebutuhannya yang menonjol adalah kebutuhan sosial. Oleh karena itu, pemecahan
masalah pembangunan pertanian di Indonesia yang menyangkut aspek sosial,
ekonomi, budaya dan politik, dilakukan dengan pendekatan teori ekonomi dualisme
Boeke, karena teori ekonomi barat dianggap tidak cocok bagi sebagian besar
masalah - masalah yang dihadapi di Indonesia. Oleh sebab itu diusulkan
dikembangkannya teori ekonomi dan teori pembangunan ekonomi tersendiri bagi
Indonesia (Mubyarto,
1987).
Kelangsungan hidup sektor pertanian tidak bisa lepas dari
perkembangan global. Menurut Soekartawi (2004), delapan aspek perlu diantisipasi
di
era global sekarang ini dan masa mendatang khususnya dalam bidang
pertanian yaitu :
a)
Pentingnya
penguasaan teknologi dan informasi.
b)
Meningkatnya
jumlah key players di sektor pertanian.
c)
Meningkatnya perubahan preferensi konsumen
pada produk-produk pertanian.
d)
Perubahan
harga yang cepat karena munculnya key players baru di perdagangan produk-produk
pertanian.
e)
Meningkatnya
kesadaran kesehatan menyebabkan perubahan kualitas produk pertanian.
f)
Perubahan
iklim yang kini mulai sulit diprediksi.
g)
Pembiayaan
usahatani yang sudah terlanjur mahal karena ekonomi biaya tinggi.
h)
Menyempitnya
lahan pertanian.
Dalam upaya menjaga kelangsungan hidup sektor pertanian,
Mangunwidjaja dan Sailah (2005) menyebutkan bahwa visi pembangunan pertanian
abad ke-21 yang masih tetap aktual untuk dijadikan salah satu acuan pembangunan
pertanian saat ini atau pada masa yang akan datang adalah :
a)
Menciptakan
produk dan jasa pertanian yang berdaya saing tinggi.
b)
Memelihara
kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan pertanian.
c)
Meningkatkan
dan pemerataan kesejahteraan bangsa dan rakyat Indonesia pada umumnya dan
pelaku pertanian pada khususnya.
d)
Meningkatkan
kontribusi pertanian dalam ekonomi nasional.
Pembangunan pertanian diarahkan pada
berkembangnya pertanian yang maju, efisien dan tangguh yakni mencakup konsep-konsep
mikro dan makro yaitu bagi sektor pertanian sendiri maupun dalam hubungannya
dengan sektor-sektor lain diluar pertanian, misalnya industri, transportasi,
perdagangan dan keuangan/ perkreditan. Bertujuan untuk meningkatkan hasil dan mutu
produksi, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, peternak dan nelayan,
memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan
industri serta meningkatkan ekspor (Mubyarto, 1989).
Menurut
Asriani (2003) dalam upaya perwujudan konsep
pembangunan pertanian berkelanjutan di Indonesia, diperkirakan akan terwujud
melalui pendekatan strategi pembangunan agribisnis nasional yaitu:
1.
Pembangunan agroindustri sebagai motor penggerak
agribisnis berubah dari usahatani kepada industri pengolahan (agroindustri).
2.
Pengembangan strategi pemasaran dimana preferensi
konsumen terus mengalami perubahan.
3.
Pengembangan sumberdaya agribisnis pemanfaatan dan
pengembangan teknologi, serta pembangunan kemampuan sumber daya manusia.
4.
Penataan dan pengembangan struktur agribisnis.
Penetaan
dan pengembangan struktur agribisnis nasional diarahkan pada dua sasaran pokok,
yaitu:
i)
Mengembangakan struktur agribisnis yang terintegrasi
secara vertikal mengikuti satu aliran produk (produk line) sehingga subsistem
agribisnis hulu, subsistem agribisnis pertanian primer dan subsistem agribisnis
hilir berada dalam suatu keputusan manajemen.
ii)
Mengembangkan organisasi bisnis (ekonomi) petani agar
dapat merebut nilai tambah yang ada pada subsistem agribisnis hulu dan
subsistem agribisnis hilir.
5.
Pengembangan pusat pertumbuhan agribisnis dari orientasi
pusat-pusat konsumen ke orientasi sentra produksi bahan baku.
6.
Pengembangan infrastruktur agribisnis seperti jaringan
jalan dan transportasi (laut, udara, sungai dan darat) jaringan listrik, air,
pelabuhan perikanan dan peternakan, pelabuhan ekspor dan lain-lain.
2.4. Sektor Pertanian dalam Pembangunan Ekonomi.
Menurut Ghatak (1984) sektor pertanian berperan sangat
penting dalam pembangunan ekonomi khususnya pada negara-negara yang sedang
berkembang. Sektor pertanian dalam negara yang sedang berkembang mempunyai
empat kemampuan potensial dalam memberikan konstribusi terhadap pertumbuhan dan
pembangunan nasional. Keempat kontribusi itu adalah:
1) Kontribusi
Produk
Ekspansi
dalam sektor non pertanian sangat berkaitan dengan sektor pertanian. Sektor
pertanian tidak saja secara kontinyu dalam meningkatkan persediaan bahan
pangan, juga untuk menyediakan bahan mentah untuk produk industri, seperti tekstil.
Kontribusi produk sektor pertanian ditunjukkan oleh sumbangan sektor pertanian
terhadap pembentukan Produk Domestik Bruto (PDB) dan juga keterkaitan
(linkages) sektor pertanian terhadap sector lainnya.
2) Kontribusi
Pasar
Oleh karena adanya bias ekonomi pada tahap awal
pembangunan, sektor pertanian secara substansial memberikan kontribusi terhadap
pasar. Kontribusi ini ditunjukkan oleh pengeluaran petani untuk barang-barang
industri, baik untuk konsumsi maupun sebagai input antara. Dipihak lain, sektor
pertanian juga menjual outputnya untuk keperluan sektor lainnya.
3) Kontribusi
Faktor
Sebagai sektor yang paling tua, sektor pertanian
menyumbangkan outputnya untuk faktor produksi kepada sektor lainnya. Kontribusi
tersebut dapat berupa kapital dan juga tenaga kerja termasuk sumberdaya
manusia. Transfer kapital terjadi karena surplus pada sektor pertanian
disumbangkan kepada sektor non pertanian, hal ini disebabkan karena sektor non
pertanian umumnya mempunyai permintaan kapital yang lebih elastis dibandingkan
pada sektor pertanian. Transfer tenaga kerja dari sektor pertanian disumbangkan
ke sektor non pertanian, hal ini disebabkan karena sektor non pertanian umumnya
mempunyai persediaan tenaga kerja yang berlimpah. Dengan tingkat upah yang rendah pada sektor
pertanian, maka tenaga kerja akan terdorong untuk pindah dari sektor pertanian
ke sektor non pertanian.
4) Kontribusi
Devisa
Pada negara-negara yang sedang berkembang, sektor
pertanian sangat berperan dalam menyumbangkan devisa, karena ekspor utama negara-negara
yang sedang berkembang adalah komoditas pertanian. Devisa hasil ekspor
komoditas pertanian ini umumnya digunakan untuk membiayai pembangunan
sektor-sektor non pertanian. Hal ini pertama, disebabkan karena ekspansi
produksi pada komoditas ekspor pertanian seperti kopi, kakao atau kapas dapat
dilakukan dengan sistem perluasan tanaman secara subsistem (largely subsistence
cropping system) untuk menghindari investasi baru. Kedua, karena sektor
pertanian umumnya sering menggunakan tambahan modal yang relatif sedikit.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Hambatan – Hambatan Pembangunan Pertanian di Indonesia.
Sektor pertanian tetap menjadi sektor penting dalam
pembangunan ekonomi nasional. Peran strategis sektor pertanian tersebut
digambarkan dalam kontribusi sektor pertanian dalam penyedia bahan pangan dan
bahan baku industri, penyumbang PDB, penghasil devisa negara, penyerap tenaga
kerja, sumber utama pendapatan rumah tangga perdesaan, penyedia bahan pakan dan
bioenergi, serta berperan dalam upaya penurunan emisi gas rumah kaca. Pada
RPJMN 2015-2019, NAWA CITA menjadi agenda prioritas Kabinet Kerja dengan
mengarahkan pembangunan pertanian ke depan untuk mewujudkan kedaulatan pangan,
agar Indonesia sebagai bangsa dapat mengatur dan memenuhi kebutuhan pangan
rakyatnya secara berdaulat.
Dalam melaksanakan pembangunan pertanian saat ini,
persoalan mendasar yang diperkirakan masih dihadapi sektor pertanian di masa
yang akan datang, mencakup:
a)
Kerusakan lingkungan dan perubahan iklim.
b)
Terkait masalah infrastruktur, sarana prasarana, lahan
dan air.
c)
Terkait sempitnya kepemilikan lahan.
d)
Terkait dengan sistem perbenihan dan perbibitan nasional.
e)
Terkait akses petani terhadap permodalan kelembagaan
petani dan penyuluh.
f)
Terkait keterpaduan antar sektor atau koordinasi serta
sinergi antar sektor.
Tantangan dan permasalahan pembangunan pertanian juga
dapat terkait dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan perubahan
lingkungan strategis global. Tingginya jumlah penduduk yang sebagian besar
berada di pedesaan dan memiliki budaya kerja keras merupakan potensi tenaga
kerja pertanian. Untuk itu, tantangan sektor pertanian yaitu masih menjadi
tempat bergantungnya bagi sebagian besar jumlah penduduk untuk memenuhi
lapangan kerja penduduk.
Permasalahan dalam pembangunan pertanian bisa bersumber
dari faktor internal (domestik) dan faktor eksternal. Tantangan internal
pembangunan pangan dan pertanian Indonesia, yaitu:
a)
Terbatasnya sumber daya
alam.
b)
Dampak perubahan
iklim global.
c)
Pertanian
Indonesia dicirikan atau didominasi oleh usahatani skala kecil.
d)
Adanya
ketidakseimbangan produksi pangan antarwilayah.
e)
Proporsi
kehilangan hasil panen dan pemborosan pangan masih cukup tinggi.
Pembangunan pertanian
nasional juga akan sangat dipengaruhi oleh berbagai permasalahan dinamika
lingkungan global. Liberalisasi pasar telah berakibat semakin kuatnya
persaingan pasar, saling ketergantungan, pemanfaatan teknologi tinggi, dan
tuntutan konsumen yang lebih tinggi dalam kualitas produk, isu lingkungan dan
hak asasi manusia. Pada sisi lain liberalisasi perdagangan juga merubah pola
pasar di mana pasar moderen juga semakin tumbuh pesat, sehingga kekuatan pasar
produk akan bergesar dari produsen/petani ke perusahaan nasional dan
multinasional.
Isu lemahnya daya
saing komoditas pangan di pasar internasional. Harga beras dan jagung Indonesai
di pasar dunia jauh lebih tinggi dibandingkan rataan harga dunia. Dewasa ini
dengan kemajuan teknologi industry, informasi, komunikasi dan trasnportasi,
permintaan maupun penawaran barang dan jasa telah berkembang baik di negara
maju maupun sedang berkembang, di desa maupun di kota.
Permasalahan dan
tantangan yang dihadapi petani padi dan pangan secara umum semakin kompleks.
Pada satu sisi, kesempatan untuk menjual barang dan atau jasa yang diproduksi
lebih banyak dan semakin terbuka. Selain itu, permasalahan dan tantangan
lainnya adalah adalah terkait dengan rendahnya tingkat penguasaan lahan
usahatani.
Kebutuhan jagung
untuk bahan baku pakan semakin meningkat. Dalam konteks pemenuhannya, industri
pakan senantiasa menghendaki aspek kontinyuitas akan bahan baku jagung yang
dipasok. Tantangan secara umum yang dihadapi terkait produksi jagung adalah
luas lahan usahatani. Rata-rata luas lahan usahatani jagung per keluarga petani
masih jauh di bawah skala ekonomi. Tantangan lainnya adalah masih relatif
mahalnya harga benih hibrida, sehingga menyebabkan penggunaan benih jagung
hibrida masih terbatas. Permasalahan lainnya adalah terkait fluktuasi harga
jual jagung, dan kemitraan antara pemerintah, Gabungan Perusahaan Makanan
Ternak (GPMT) dan petani. Dengan kemitraan itu memberikan jaminan kepastian
pasar bagi petani jagung, di sisi lainnya adanya pasokan secara berkelanjutan
bagi pabrik pakan.
Permasalahan
terkait budidaya kedelai adalah iklim, yang merupakan salah satu faktor yang
mempengaruhi tingkat produktivitas kedelai. Selain itu, usaha produksi kedelai
di Indonesia harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam.
Permasalahan
bawang merah yang akhir akhir ini terjadi adalah produktivitas bawang merah
rendah hingga dalam skala nasional, sehingga menyebabkan harga bawang rendah
mahal dan sulit untuk diekspor ke Luar Negeri. Tantangan yang biasa dihadapi
pembudidaya bawang merah terhadap perubahan iklim cukup beragam.
Untuk komoditas
cabai merupakan komoditas sayuran yang cukup strategis, baik cabai merah maupun
cabai rawit. Pada musim tertentu, kenaikan harga cabai cukup signifikan
sehingga mempengaruhi tingkat inflasi. Fluktuasi harga ini terjadi hampir
setiap tahun dan meresahkan masyarakat. Upaya pemerintah dalam mengatasi gejolak
harga cabai dengan melakukan upaya peningkatan luas tanam cabai pada musim
hujan, pengaturan luas tanam dan produksi cabai pada musim kemarau, stabilisasi
harga cabai dan pengembangan kelembagaan kemitraan yang andal dan
berkelanjutan.
Untuk komoditas
bawang putih, masalah ketersediaan lahan dan berkompetisi dengan lahan
komoditas lainnya merupakan malah utama. Permasalahan krusial lainnya adalah
terkait ketersediaan bibit. Bahwa bibit bawang putih lokal cenderung sulit
bersaing di pasaran karena ukurannya kecil. Pada aspek pemasaran, konsumen
lebih cenderung memilih bawang putih impor karena ukurannya yang relatif besar.
Pada komoditas
gula/tebu, terdapatnya penurunan produksi atau tidak tercapainya target
produksi diduga akibat beberapa permasalahan sebagai berikut:
a.
Perubahan iklim
atau anomali ilkim.
b.
Inovasi teknologi
budidaya tebu terbarukan belum optimal.
c.
Terbatasnya
varietas unggul baru yang adaptif di lahan kering.
d.
Dukungan
Pengolahan belum Optimal.
e.
Petani meragukan
transparansi rendemen.
f.
Dukungan Kebijakan
dan regulasi belum tepat.
g.
Tidak stabilnya
harga di tingkat petani disebabkan sistem pasar gula misalnya dengan beredarnya
gula kristal putih impor.
h.
Minimnya kuantitas
dan kualitas SDM pertebuan.
i.
Sumber Daya Alam
(SDA) terbatas untuk tebu.
j.
Minimnya minat
investasi terhadap industri gula berbasis tebu.
k.
anajemen
pengelolaan pengembangan tebu dan faktor pendukungnya baik hulu dan hilir belum
sinergi dan belum maksimal.
Pada pengembangan kopi,
terdapat permasalahan yang dihadapi yaitu: (1) terbatasnya alokasi/curahan
input seperti pupuk pada usahataninya akibat keterbatasan permodalan usahatani,
(2) harga kopi yang kurang stabil dan (3) masih banyaknya tanaman yang sudah
berumur kurang produktif. Secara umum, dari data yang dikemukakan diketahui
bahwa produksi kopi nasional relatif rendah.
Permasalahan yang
dihadapi dalam pengembangan lada yaitu:
a.
terbatasnya
alokasi/curahan input seperti pupuk pada usahataninya akibat keterbatasan
permodalan usahatani.
b.
Harga lada yang
kurang stabil.
c.
Faktor anomali
iklim yang menyebabkan produktivitas turun. Pada beberapa tahun terakhir
terjadi pengurangan areal lada yang diakibatkan beberapa faktor antara lain:
·
Kekeringan.
·
Serangan penyakit
busuk pangkal batang, hama penggerek batang dan bunga, serta penyakit kuning
dan kerdil.
·
Konversi areal
lada baik untuk tambang maupun komoditas lain seperti kelapa sawit, karet dan
lada.
Pada komoditas
kelapa sawit, paling tidak terdapat 4 tantangan terkait peningkatan
produksinya, yaitu: (1) Tantangan terkait isu aspek lingkungan, (2) Tantangan
terkait peningkatan produktivitas, (3) Tantangan teknologi produksi, dan (4)
Tantangan ekonomi.
Pada pengembangan
ternak sapi potong terdapat permasalahan dan tantangan yang dihadapi antara
lain terkait: (a) Kelembagaan (efektifitas kemitraan, peran koperasi, dukungan
perbankan dan asuransi; (b) Konsistensi kebijakan dan instrumentasi kebijakan;
(3) Kemampuan SDM; (4) Infrastuktur (kualitas RPH, sarana transportasi); (5)
Persaingan dan liberalisasi pasar; (6) Ketergantungan sarana produksidari
impor; (7) Penyakit eksotik; dan (8) Persaingan dalam penggunaan lahan dan alih
fungsi lahan, khususnya terkait dengan potensi sumberdaya lahan penyediaan
hijauan pakan ternak.
Terkait permasalahan pokok dalam pengembangan industri
broiler domestik adalah: (a) Masalah penyediaan bahan baku pakan industri
perunggasan (broiler); (b) Belum seimbangnya antara pertumbuhan produksi dengan
pertumbuhan konsumsi; (c) Pertumbuhan konsumsi atau permintaan daging ayam
(broiler) dipasar domestik lebih cepat dibandingkan dipasar global; (d) Adanya
indikasi terjadinya ketimpangan struktur pasar baik pada pasar input maupun
pasar output yang menempatkan peternak kecil dalam posisi lemah; (e) Sistem
distribusi dan pemasaran daging ayam (broiler) yang belum sepenuhnya efisien;
(f) Kemitraan usaha (contract farming) pada broiler belum berjalan secara
optimal; (g) Industri peternakan komersial sangat rentan terhadap gejolak
eksternal; dan (h) Belum berkembangnya secara meluas sistem rantai dingin (cold
chain) produk broiler dalam distribusi dan pemasaran dari daerah sentra
produksi ke pusat-pusat konsumsi. Adapun tantangan yang dihadapi dalam
pengembangan ternak unggashayam ras: (1) Permodalan; (2) Wabah atau Penyakit;
(3) Fluktuasi Harga Ayam; (4) Strategi menembus pasar; dan (5) Persaingan Global yang ketat.
3.2. Solusi Untuk Pembangunan Pertanian di Indonesia
Pembangunan pertanian dapat mengunakan program
Revitalisasi Pertanian, program ini mencakup delapan kegiatan, yaitu (a) mencegah
KKN, (b) mengamankan ketersediaan bahan pangan menghadapi hari-hari besar
keagamaan, (c) memfasilitasi persiapan dan pelaksanaan musim tanam, (d) mengurangi
penganguran dan kemiskinan, (e) merumuskan kebijakan kelembagaan dan keuangan
untuk pertanian dan pedesaan, (f) merumuskan kebijakan infrastruktur pertanian,
(i) menangani impor ilegal dan pemalsuan sarana produksi pertanian, (g) serta
merumuskan kebijakan perdagangan internasional (Widiyanti, 2005).
Pertanian harus diarahkan pada kebijakan yang secara umum
adalah people driven dikarenakan selama ini masyarakat kurang diberi keleluasaan
untuk mengembangkan diri, perlu ada kebijakan yang membuka peluang yang bisa
membuat petani berkembang dan mandiri. Kebijakan pemerintah diarahkan pada
tersedia ‘ruang’ bagi petani untuk bisa menerapkan teknologi tepat guna yang
bisa memberdayakan dan mandiri sehingga petani tidak perlu merasa untuk melawan
arus atau berseberangan dengan program pertanian pemerintah karena ada
rambu-rambu untuk melakukannya dan bersifat umum dan menyeluruh. Sosialisasi
termasuk menjadi masalah utama berbagai kebijakan yang dijalankan di Indonesia.
Secara politis hal ini sangat positif karena keterlibatan masyarakat sangat
dibutuhkan (Dillon, 1999).
Platform industrialisasi sektor-sektor yang berkaitan
dengan pertanian harus diubah. Industrialisasi tidak hanya untuk menyuplai
sektor pertanian tetapi mengembangkan produk-produk pertanian sehingga memiliki
nilai tambah. Hal ini penting dilakukan agar variasi produk tidak hanya lebih
beragam. Subtitusi produk makanan pokok termasuk dalam kegiatan ini.
Penyeragaman makanan pokok masyarakat menjadi beras tidak seharusnya terjadi.
Penemuan varitas padi unggulan sangat penting sehingga bisa meningkatkan
produksi. Namun ketika produksi berlimpah, industri harus bisa menyerapnya.
Inovasi dalam teknologi pangan sangat penting untuk dilakukan. Kesulitan
mengidentifikasi kebutuhan tiap-tiap daerah terhadap produk-produk pertanian
dan bentuk pengembangan menjadi kendala kegiatan ini.
Perbaikan tata niaga pupuk dan obat tanaman sangat
penting. Ketergantungan terhadap pupuk dan obat kimiawi harus dikurangi karena
saat ini telah berkembang budidaya tanaman organik. Ongkos produksi terbesar
yang dikeluarkan petani adalah dua jenis sarana produksi pertanian (saprotan)
ini. Pemahaman yang keliru sering terjadi dalam penggunaan dua saprotan ini
sehingga yang terjadi adalah penghamburan. Banyaknya pemain pada tata niaga
pupuk dan obat tanaman berpeluang pada munculnya resistensi pasar atas
kebijakan ini. Apabila kebijakan ini berhasil, yang diuntungkan adalah petani.
Aspek teknis juga bisa dikembangkan dengan mengembangkan
pertanian yang berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan adalah cara pertanian
konvensional dengan inovasi pakar maupun petani dalam proses produksi
pertanian, seharusnya aman bagi lingkungan dan hemat biaya (Padmowijoto, 2006).
Teknologi yang berkembang selama ini bisa diadopsi oleh petani tapi petani
melakukannya dengan menerapkan teknologi tepat guna yang mereka kembangkan
sendiri. Saat ini mulai berkembang teknologi pertanian organik tapi model
pertanian ini masih dianggap berbiaya tinggi. Memang dalam jangka panjang biaya
tinggi bisa dipangkas sehingga sama dengan teknologi revolusi hijau tapi waktu
normal untuk mencapai hal tersebut adalah 8 musim (Sodikin, 2006). Alternatif
yang paling masuk akal adalah memberikan peluang bagi masyarakat petani untuk
mengembangkan pertanian berkelanjutan yang ramah lingkungan yaitu menerapkan
teknologi secara proporsional dan menerapkan teknik subtitusi yang bisa
menghemat biaya di samping menghindarkan
diri dari kemerosotan tingkat kehidupan petani.
Jika investasi di
sektor pertanian meningkat, maka kesempatan untuk menghasilkan lebih banyak
komoditas pertanian pun meningkat, selain itu produksi dapat digenjot dan
ekspor komoditas pertanian bisa terus ditingkatkan. Dukungan pemerintah untuk
meningkatkan iklim investasi di sektor pertanian terlihat dari diterapkannya
kemudahan-kemudahan dalam pengurusan investasi baik dari luar negeri maupun
dari dalam negeri.
DAFTAR
PUSTAKA
Bukhori, M. 2014. Sektor Pertanian Terhadap Pembangunan di
Indonesia. Surabaya.
Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”.
Mardikanto, Totok. (2007). Pengantar Ilmu Pertanian. Surakata: Pusat Pengembangan Agrobisnis Dan Perhutanan Sosial.
Pratomo, Satriyo. 2010. Analisis Peran Sektor Pertanian Sebagai Sektor Unggulan di Kabupaten
Boyolali. Skripsi. FE UNS.
Surakarta.
Resthiningrum, Raras. 2011. Keragaan dan Peranan Sektor Pertanian Dalam Perekonomian
Wilayah di Kabupaten Blora. Fakultas
Pertanian UNS. Surakarta.
Mosher, A. T. 1981. Menggerakkan dan Membangun Pertanian: Syarat-syarat Pokok Pembangunandan
Modernisasi. Yasaguna. Jakarta.
Hadisapoetro, S. 1973. Pembangunan Pertanian. Departemen Ekonomi Pertanian Fakultas
Pertanian UGM. Yogyakarta.
Mubyarto. 1977. Pengantar
Ekonomi Pertanian. Jakarta: Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial
(LP3ES). 305 hal.
Soekartawi. 2004. Prinsip
Dasar Ekonomi Pertanian Teori dan Aplikasi. Rajawali
Persada Jakarta.
Mangunwidjaja, D dan I. Sailah. 2005. Pengantar
Teknologi Pertanian. Jakarta:
Penebar Swadaya.
Mubyarto (1989), Pengantar Ekonomi Pertanian, Jakarta : Edisi Ke-tiga, LP3S.
Asriani,
PS. (2003). “Konsep Agribisnis dan
Pembangunan Pertanian Berkelanjutan di Indonesia”. Jurnal Ekonomi dan
Kebijakan Pembangunan. 2(2):222-236.
Ghatak, S., and K. Ingersent. 1984. Agricultural and Economic Development.
The John
Hopkins University Press. Baltimore, Meryland.
Komentar
Posting Komentar