Langsung ke konten utama

Pembangunan Pertanian Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Indonesia merupakan negara pertanian sebab perekonomian di Negara Indonesia lebih banyak berasal dari sektor pertanian, dan hal itu dapat kita lihat dari besarnya kesempatan kerja dan besarnya jumlah penduduk yang masih tergantung pada sektor pertanian (Adisasmita, 2006). Sebagian besar mata pencaharian penduduk di Indonesia adalah berasal dari sektor peertanian. Sektor ini memberi sumbangan yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) (Firdaus, 2012).

Di Indonesia memiliki dua jenis padi yang dibudidayakan yaitu padi unggul dan padi lokal. Sedangkan varietasnya ada berbagai macam varietas yang dibudidayakan. Seperti padi unggul ada beberapa contohnya padi ciherang, inpara 2 dan inpari 42. Sedangkan untuk padi lokal contohnya padi siam mutiara, padi siam mayang, padi siam unus, padi siam arjuna, padi siam mayang.

Pembangunan pertanian di Indonesia tidak lepas dari Rencana Pembangunan Nasional. Di dalamnya termuat Visi-Misi  pembangunan pemerintah nasional yaitu “terwudunya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong Royong” yang akan diwujudkan melalui tujuh misi pembangunan. Hal tersebut diteruskan atau di sinergikan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Selatan dengan visi “Kalsel Mapan (Mandiri dan Terdepan) Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Berkelanjutan, Berdikari dan Berdaya Saing” yang mengandung makna bahwa kondisi Kalsel berada dalam kondisi mapan, yang berarti baik, tidak goyah, dan stabil).

Mengacu pada hal di atas maka visi dari Kabupaten Barito Kuala seperti yang tertuang dalam RPJMD 2017-2025 yaiu “Barito Kuala 2025 yag Adil, Maju dan Mandiri Berbasis agribisnis”. Dalam visi  tersebut terkandung nilai-nilai yang dicita-citakan dan diidam-idamkan oleh Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Barito Kuala (RPJMD Kabupaten Batola, 2016).


Salah satu provinsi penghasil padi lokal dan padi unggul di Indonesia yaitu Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten Barito Kuala adalah salah sau kabupaten di provinsi kalimantan Selatan yang memiliki tipe lahan A, B, dan C yang Sangat potensial bagi pertanian.Padi merupakan salah satu tanaman pangan unggulan yang dibudidayakan di Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten Barito Kuala juga adalah daerah penghasil padi terbesar di Kalimantan Selatan.Informasi mengenai produksi, luas panen dan produktivitas padi di Provinsi Kalimantan Selatan Tahun 2019 yakni sebagai berikut:

 Tabel 1. Produksi, luas panen dan produktivitas padi menurut Kabupaten dan Kota di Kalimantan Selatan Tahun 2019

Kabupaten

Produksi (Ton)

Luas panen (Ha)

Produktivitas (Kw/Ha)

(1)

(2)

(3)

(4)

Tanah Laut

117.728,21

28.453,79

41,38

Kotabaru

20.172,26

6.340,93

31,81

Banjar

245.195,57

77.013,61

31,84

Barito Kuala

284.558,93

88.342,77

32,21

Tapin

161.647,51

40.374,98

40,04

Hulu Sungai Selatan

124.999,04

30.964,51

40,37

Hulu Sungai Tengah

134.652,55

29.240,03

46,05

Hulu Sungai Utara

96.295,76

18.285,41

52,66

Tabalong

56.610,73

13.936,89

40,62

Tanah Bumbu

55.192,69

11.991,54

46,03

Balangan

19.923,66

5.061,63

39,36

Banjarmasin

19.773,56

4.572,46

43,25

Banjarbaru

6.111,35

1.667,40

36,65

Kalimantan Selatan

1.342.861,82

356.245,95

37,70

Sumber: BPS Kalimantan Selatan, 2020

1.2.     Rumusan Masalah

Kabupaen Barito Kuala merupakan kabupaten yang sangat berpotensi dalam sektor pertanian. Lebih dari  50% (persen) luas lahan di Kabupaten Barito Kuala digunakan sebagai lahan perkebunan dan persawahan. Hal demikian menjadikan Kabupaten Barito Kuala penghasil hasil pertanian yang cukup besar di Provinsi Kalimantan selatan. Hasil pertanian utama yang sanga kentara terlihat hasilnya yaitu padi.

Seperti halnya tertuang dalam visi Kabupaten Barito Kuala yaitu “Barito Kuala 2025 yang Adil, Maju dan Mandiri Berbasis Agribisnis”. Dalam visi tersebut terkandung nilai-nilai yang dicita-citakan dan diidam-idamkan bersama oleh Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Barito Kuala.

Berdasarkan permasalahan  di atas, rumusan masalah penulisan ini yaitu:

1.     Bagaimana data luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Barito Kuala?

2.     Bagaimana cara agar Kabupaten Barito Kuala agar tetap menjadi lumbung padi bagi Provinsi Kalimantan Selatan?

1.3.     Tujuan

1.     Untuk memahami data luas tanam, luas panen, produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Barito Kuala.

2.     Untuk mengetahui dan memahami cara agar Kabupaten Barito Kuala agar tetap menjadi lumbunng padi bagi Provinsi Kalimantan Selatan.

3.     Agar bisa memberikan referensi bagi para petani agar bisa lebih meningkatkan produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Barito Kuala.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.     Pembangunan Pertanian

Menurut Heryansyah (2017), pembangunan adalah suatu upaya yang secara sadar dilakukan oleh manusia untuk memanfaatkan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya. Dengan adanya pembangunan maka kehidupan dan kesejahteraan manusia dapat meningkat.

Pembangunan diartikan sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah terbiasa dan lembaga-lembaga nasional termasuk pula percepatan atau akselerasi pertumbuhan ekonomi , pengurangan ketimpangan dan pemberantasan kemiskinan yang absolut. Pembangunan pada hakikatnya haruslah menyarakan seluruh nada dasar perubahan yang dengan itu pula seluruh sistem sosial seirama atau senada dengan berbagai dasar kebutuhan dan keinginan masing-masing individu  dan kelompok-kelompok masyarakat yang bernaung di dalam sistem itu, bergerak maju dari kondisi kehidupan yang serba kekurangan dan tidak memuaskan menuju kepada kondisi kehidupan yang jauh lebih baik, baik materil maupun spiritual, (Todaro, 1983).

Menutut A. T. Mosher dalam Lincolin Arsyad (1999), mengelompokkan syarat-syarat pembangunan pertanian menjadi dua yaitu syarat mutlak dan syarat pelancar. Syarat-syarat mutlak adalah:

1.      Adanya pasar untuk hasi-hasil usaha tani,

2.      Teknelogi yang senantiasa berkembang,

3.      Tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara lokal,

4.      Adanya perangsang produksi bagi petani,

5.      Adanya pengangkutan yang lancar dan kontinyu.

Adapun yang termasuk dalam syarat-syarat atau sarana pelacar adalah :

1.      Pendidikan pembangunan,

2.      Kredit produksi,

3.      Kegiatan gotong royong petani,

4.      Perbaikan dan perluasan tanah pertanian,

5.      Perencanaan nasional pembangunan pertanian.

Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani,memperluas lapangan kerja dan kesempatan usaha, serta mengisi dan memperluas pasar dalam negri maupun luar negri. Ini dilakukan melalui pertanian yang maju, efisien, dan tangguh sehingga makin mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil, meningkatkan mutu dan derajat pengolahan produksi dan menu jang pembangunan wilayah (Kamaluddin, 1998).

Rencana pembangunan pertanian di masa yang akan datang, khusus nya di era otonomi daerah, perlu disusun berdasarkan suatu konsep pembangunan pertanian yang mengedepankan eksistensi petani sebagai produsen. Hal tersebut  memerlukan topangan infrastruktur dan kebijakan agar proses untuk mengasilkan produk  dapat berlangsung secara effektif dan efisien, produk yang dihasikan dapat ditingkatkan nilai ekonominya melalui proses pengolahan yang tepat, produk yang telahdiolah memiliki ketahanan kualitas terhadap rentang waktu selama proses pemasaran, produk memiliki daya saing di pasaran dalam dan luar negri (Usman et.al., 2001).

Sektor pertanian harus diposisikan sebagai sektor andalan perekonomian, berdasarkan kondisi yang dihadapi saat ini sektor pertanian harus menjadi sektor unggulan dalam menyusun strategi pembangaunan. Pengembangan sektor pertanian harus diarahkan kepada sistem agribisnis dan agroindustri, karena akan dapat meningkatkan nilai tambah sektor pertanian, prospek pengembangan agribisnis dan agroindustri kedepan sangat baik, hal ini didukung dengan keadaan geografis dan letaknya sangat strategis, hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari pertanian (Mubyarto,1989).

2.2.     Pembangunan Pertanian Kabupaten Barito Kuala (BATOLA)

Kabupaten Barito Kuala berada di bagian barat dari Provinsi kalimanan Selatan dengan total keseluruhan luas wilayah Kabupaten Barito Kuala adalah 2.996,96 Km2. Memiliki 17 (tujuh belas) Kecamatan. Kecamatan tersebut yaitu Tabunganen, Tamban, Mekarsari, Anjir Muara, Anjir Pasar, Alalak, Rantau Badadauh, Barambai, Belawang, Wanaraya,Cerbon, Bakumpai, Marabahan, Mandastana, Tabukan, Kuripan, dan Jejagkit.

Kondisi wilayah Kabupaten Barito Kuala dilalui oleh 3 (tiga) sungai yaitu Sungai Barito, Sungai Negara, dan Sungai Kapuas yang bermuara ke Laut Jawa. Oleh karena itu, Kabupaten Barito Kuala memiliki kondisi wilayah yang sangat srategis. Sungai-sungai tersebut menjadi jalur transportasi angkutan hasil bumi antar kabupaten maupun antar provinsi. Disamping dijadikan sebagai prasarana transportasi, Sungai Barito juga diperuntukkan sebagai jaringan irigasi utama untuk berbagai usaha pertanian dan perikanan

Kabupaten Barito Kuala memiliki potensi besar pada sektor pertanian khususnya pertanian tanaman pangan. Berdasarkan data yang termuat dalam Buku Data dan Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016, Kabupaten Barito Kuala memiliki lahan perkebunan seluas 76.496,29 hektar yang erdiri baik dari lahan kebun fungsional maupun kebun potensial. Sedangkan lahan sawah memiliki luas 83.870,54 hektar yang merupaka seluruh luasan sawah yang pada saat ini  ada aktivitas pertanian baik tanaman pangan (sawah fungsional) lahan rawa pasang surut. 

Tabel 2. Luas Panen Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016-2019 (Ha)

No

Kecamatan

Luas Panen

2016

2017

2018

2019

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

Tabunganen

12.810

12.686

12.665

12.369

2

Tamban

7.827

7.769

7.952

8.169

3

Mekarsari

7.144

7.029

6.487

7.322

4

Anjiar Pasar

8.830

8.705

9.212

8.794

5

Anjir Muara

8.155

7.962

7.861

8.028

6

Alalak

4.530

4.371

3.630

4.218

7

Mandastana

5.526

5.457

5.551

5.622

8

Jejangkit

2.753

2.752

4.309

1.787

9

Belawang

5.217

4.987

5.872

5.003

10

Wanaraya

2.996

2.918

3.066

2.435

11

Barambai

8.383

8.604

8.463

8.057

12

Rantau Badauh

7.944

7.632

7.933

7.074

13

Cerbon

5.668

5.523

5.552

5.626

14

Bakumpai

4.777

4.684

4.887

5.215

15

Marabahan

4.025

4.030

4.033

4.589

16

Tabukan

3.725

5.940

6.005

6.095

17

Kuripan

37

177

260

130

Barito Kuala

100.348

101.226

103.738

100.531

Sumber : BPS Barito Kuala 2017 – 2020

Dilihat dari tabel di atas ada 17 kecamatan di Barito Kuala dari Tabunganen sampai dengan Kuripan, Dan tabel diatas menunjukan luas panen tertinggi berada pada kecamatan Tabunganen dengan luas 12.810Ha pada tahun 2016,kemudian di tahun 2017 menurun menjadi 12.686 Ha, tahun 2018 juga turu kembali menjadi 12.665 Ha dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 12.369 Ha. Sedangkan Kecamatan yang paling rendah luas panen yaitu di kecamatan Kuripan  dengan luas panen sebesar 37 Ha di tahun 2016,kemudian di tahun 2017 naik menjadi 177 Ha, tahun 2018 naik kembali menjadi 260 dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 130 Ha. 

Tabel 3. Data Produksi Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016 – 2019 (Ton)

No

Kecamatan

Produksi

2016

2017

2018

2019

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

Tabunganen

42.785

49.055

45.189

39.668

2

Tamban

26.080

29.465

28.352

26.183

3

Mekarsari

23.811

26.771

23.005

23.458

4

Anjiar Pasar

29.438

33.822

32.762

28.185

5

Anjir Muara

27.192

30.613

27.832

25.729

6

Alalak

15.076

16.975

12.918

13.513

7

Mandastana

18.402

21.371

19.890

18.019

8

Jejangkit

9.148

10.482

15.354

5.727

9

Belawang

17.373

19.425

20.888

16.025

10

Wanaraya

9.148

11.138

10.945

7.801

11

Barambai

27.941

32.930

30.076

25.822

12

Rantau Badauh

26.469

29.359

28.166

22.673

13

Cerbon

18.874

21.052

19.810

18.031

14

Bakumpai

15.898

18.387

17.543

16.708

15

Marabahan

13.395

15.443

14.371

14.694

16

Tabukan

45.388

22.788

21.310

19.533

17

Kuripan

123

682

920

416

Barito Kuala

344.345

389.758

369.331

322.185

Sumber : BPS Barito Kuala 2017 – 2020

Jika dilihat dari tabel di atas ada 17 kecamatan di barito kuala dari Tabunganen sampai dengan Kuripan, Dan tabel diatas menunjukan produksi panen tertinggi berada pada kecamatan Tabunganen dengan menghasilkan42.785 ton pada tahun 2016,kemudian di tahun 2017 menurun menjadi 49.055 ton, tahun 2018 naik kembali menjadi 45.189 ton dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 39.668ton. Sedangkan Kecamatan yang paling rendah produksinya yaitu di kecamatan Kuripan  dengan hasilpanen sebesar 123 ton di tahun 2016,kemudian di tahun 2017 naik menjadi 682 ton, tahun 2018 naik kembali menjadi 920ton dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 416 ton.dan dapat di lihat pada Gambar 2.

Tabel 5. Data Produktifitas Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016-2019 (Kw/Ha)

No

Kecamatan

Produktifitas

2016

2017

2018

2019

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

Tabunganen

33,4

38,7

35,7

32,1

2

Tamban

33,3

37,9

35,7

32,1

3

Mekarsari

33,3

38,1

35,5

32

4

Anjiar Pasar

33,3

38,9

35,6

32,1

5

Anjir Muara

33,3

38,5

35,4

32,1

6

Alalak

33,3

38,8

35,6

32

7

Mandastana

33,3

39,2

35,8

32,1

8

Jejangkit

33,2

38,1

35,6

32,1

9

Belawang

33,3

39

35,6

32

10

Wanaraya

33,2

38,2

35,7

32

11

Barambai

33,3

38,3

35,5

32,1

12

Rantau Badauh

33,3

38,5

35,5

32,1

13

Cerbon

33,4

38,1

35,7

32,1

14

Bakumpai

33,4

39,3

35,9

32

15

Marabahan

33,3

38,3

35,6

32

16

Tabukan

33,4

38,4

35,5

32,1

17

Kuripan

33,4

38,5

35,4

32

Barito Kuala

33,3

38,5

35,6

32,1

Sumber : BPS Barito Kuala 2017 - 2020

Dilihat dari Tabel 5 diatas, dari 17 Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala terdapat 5 kecamatan yang produktifitasnya tertinggi di tahun 2016 yaitu Kecamatan Tabunganen, Kecamatan Cerbon, Kecamatan Bakumpai,KecamatanTabukan dan Kecamatan Kuripan yaitu senilai 33,4 Kw/Ha. Di tahun 2017 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan bakumpai yaitu senilai 39,3 Kw/Ha. Di Tahun 2018 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan Bakumpai yaitu senilai 35,9 Kw/Ha dan terakhir pada tahun 2019 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan  Tabunganen, Kecamatan Tamban, Kecamatan Anjir Pasar, Kecamatan Anjir Muara, Kecamatan Mandastana, Kecamatan Jejangkit, Kecamatan Barambai Kecamatan Rantau Badauh, Kecamatan Cerbon dan Kecamatan Tabukan.  yaitu senilai 32, 1 Kw/Ha.

Tabel 6. Data Luas Tanam, Panen, Provitas dan Produksi Padi Lokal tahun 2020

No

Nama Kecamatan

Tanam

Panen

Provitas

Produksi

Ha

Ha

Kw/Ha

Ton

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

Tabunganen

           13.323

       12.552

40,02

           50.232

2

Tamban

             8.629

         7.988

39,31

           31.401

3

Mekarsari

             3.657

         3.543

35,55

           12.597

4

Anjir Pasar

             8.596

         8.280

39,72

           32.888

5

Anjir Muara

             8.655

         8.342

39,95

           33.326

6

Alalak

             4.281

         4.153

35,42

           14.708

7

Mandastana

             5.565

         5.398

36,82

           19.876

8

Jejangkit

             2.490

         2.410

35,62

             8.586

9

Belawang

             5.645

         5.047

36,08

           18.209

10

Wanaraya

             1.913

         1.868

34,02

             6.356

11

Barambai

             8.433

         8.136

39,62

           32.236

12

Rantau Badauh

             7.010

         6.800

38,92

           26.464

13

Cerbon

             5.822

         5.662

36,92

           20.904

14

Bakumpai

             4.274

         3.802

35,92

           13.658

15

Marabahan

             4.230

         4.094

35,62

           14.584

16

Tabukan

             4.696

         4.555

35,75

           16.285

17

Kuripan

                 110

             121

34,02

                 412

Jumlah

          97.329

       92.751

37,02

        352.722

Sumber: Dinas Pertanian, 2021

Tabel 8. Data Luas Tanam, Panen, Provitas dan Produksi Padi Unggul Tahun2020

No

Nama Kecamatan

Tanam

Panen

Provitas

Produksi

Ha

Ha

Kw/Ha

Ton

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

1

Tabunganen

 

             579

35,98

          2.084

2

Tamban

                 914

         1.255

38,81

          4.871

3

Mekarsari

             3.319

         2.921

39,94

        11.665

4

Anjir Pasar

                 685

             122

33,26

              407

5

Anjir Muara

             3.214

         3.082

41,62

        12.826

6

Alalak

                 320

               96

31,26

              300

7

Mandastana

             4.540

         4.206

42,26

        17.774

8

Jejangkit

                 952

             814

36,46

          2.967

9

Belawang

             2.030

         2.398

39,56

          9.486

10

Wanaraya

                 381

             408

35,76

          1.460

11

Barambai

             2.407

         2.198

39,56

          8.695

12

Rantau Badauh

             3.032

         1.689

38,96

          6.579

13

Cerbon

                 161

             156

33,26

              519

14

Bakumpai

                 510

             847

36,96

          3.130

15

Marabahan

                 320

             223

33,76

              753

16

Tabukan

             1.924

         1.847

38,76

          7.159

17

Kuripan

                   30

 -

-

 -

Jumlah

          24.953

       22.841

37,26

        90.675

Sumber: Dinas Pertanian, 2021

 Dari Data Luas Tanam, Panen, Produktivitas dan Produksi Padi Lokal tahun 2020, dapat terlihat penghasil padi lokal terbanyak adalah Kecamatan Anjir Muara yaitu sebanyak 33.326 Ton. sedangkan pada Data Luas Tanam, Panen, Provitas dan Produksi Padi Unggul tahun 2020, dapat terlihat penghasil padi unggul terbanyak adalah Kecamatan Mandastana yaitu 17.774 Ton. Dari data padi lokal dan padi unggul diatas terlihat jelas bahwa budidaya lokal yang lebih dominan karena dari segi pembudidayaannya bisa sedikit lebih mudah dibandingkan dengan padi unggul karena padi lokal lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Selain itu juga dari segi pemeliharaannya pun lebih mudah dibanding dengan padi unggul.

Berdasarkan paparan diatas menunjukkan bahwa dominasi sektor pertanian sangat besar dalam perekonomian di Kabupaten Barito Kuala. Akan tetapi ada hal yang harus diperhatikan yakni terkait dengan masalah tingkat kemiskinan, hal ini ditunjukan masih cukup tingginya persentase kemiskinan Kab. Barito Kuala walaupun setiap tahun Kabupaten Barito Kuala selalu mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi.

Tabel 9. Data Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan Tahun 2015 -2020

Kabupaten

Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin (Jiwa)

2020

2019

2018

2017

2016

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

Tanah Laut

348,623

343,890

339,195

334,328

329,286

324,283

Kotabaru

347,399

342,217

336,719

331,326

325,827

320,208

Banjar

596,001

588,066

580,026

571,573

563,062

554,443

Barito Kuala

317,181

313,595

310,016

306,195

302,304

298,282

Tapin

193,635

191,372

189,081

186,672

184,330

181,778

Hulu Sungai Selatan

240,279

237,702

235,217

232,587

229,889

227,153

Hulu Sungai Tengah

275,213

272,419

269,384

266,501

263,376

260,292

Hulu Sungai Utara

240,494

237,573

234,604

231,594

228,528

225,386

Tabalong

257,794

254,322

250,809

247,106

243,477

239,593

Tanah Bumbu

368,362

360,187

351,673

343,193

334,314

325,115

Balangan

133,274

131,428

129,505

127,503

125,534

123,449

Kota Banjarmasin

715,703

708,606

700,869

692,793

684,183

675,440

Kota Banjar Baru

270,021

262,719

255,597

248,423

241,369

234,371

Sumber: BPS Kalimantan Selatan, 2021

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa selama periode tahun 2015 s.d 2019 di Kabupaten Barito Kuala mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi yakni ± 3,719 jiwa setiap tahunnya, tetapi persentase tingkat kemiskinan pada Kab. Barito Kuala masih cukup tinggi di Kalimantan Selatan.

Tabel 10. Persentase Penduduk Miskin Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan

Tahun 2015-2019

Kabupaten

Persentase Penduduk miskin

2019

2018

2017

2016

2015

(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Tanah Laut

 4.51

 4.40

 4.60

 4.65

 4.58

Kotabaru

 4.49

 4.52

 4.38

 4.56

 4.62

Banjar

 2.72

 2.70

 2.96

 3.10

 3.26

Barito Kuala

 4.63

 4.56

 5.13

 5.22

 5.37

Tapin

 3.41

 3.70

 3.77

 3.70

 3.88

Hulu Sungai Selatan

 5.33

 5.21

 5.80

 6.29

 6.45

Hulu Sungai Tengah

 5.93

 6.01

 6.09

 6.18

 5.81

Hulu Sungai Utara

 6.50

 6.38

 6.65

 6.76

 7.07

Tabalong

 6.01

 5.95

 6.09

 6.35

 6.59

Tanah Bumbu

 4.85

 4.88

 4.99

 5.27

 5.55

Balangan

 5.55

 5.59

 5.68

 5.67

 5.87

Kota Banjarmasin

 4.20

 4.18

 4.19

 4.22

 4.44

Kota Banjar Baru

 4.30

 4.19

 4.68

 4.62

 4.90

Sumber: BPS Kalimantan Selatan, 2021

Tabel diatas menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin di Kalimantan Selatan periode tahun 2015 s.d2018 Kabupaten Barito Kuala mengalami penurunan dengan rata-rata ± 0,27 %, tetapi pada tahun 2019 mengalami kenaikan 0,07 % sehingga menjadi 4,63 % dan menempatkan posisi Kabupaten Barito Kuala posisi ke 7 dari 13 Kabupaten di Kalimantan Selatan.

Dari hasil uraian keseluruhan diatas agar Kab. Barito Kuala tetap menjadi lumbung padi bagi Provinsi Kalimantan Selatan dan kedepannya semakin baik untuk itu beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembangunan pertanian yakni:

·        Pengembangan Ruang.

Bertujuan mengembangkan kawasan pedesaan menjadi suatu kawasan yang terpadu dan mandiri dengan melakukan penataan permukiman/relokasi permukiman yang tidak memenuhi kelayakan hunian, optimalisasi lahan, peningkatan dan pembangunan jaringan jalan raya untuk menghubungkan antar kawasan sehingga mempermudah akses ekonomi dan pertanian, pembangunan prasarana dan sarana sosial ekonomi yang dibutuhkan untuk mendukung pusat-pusat pertumbuhan sesuai dengan fungsinya.

·            Pengembangan Infrastruktur

Melakukan pengembangan infrasturktur yakni seperti jalan usaha tani, terminal, sarana kesehatan dan pendidikan, sarana fasilitas umum dan pasar.

·            Pengembangan Usaha

ü  Pengembangan komoditas unggulan sesuai dengan keunggulan komparatif/potensi yang dimiliki

ü  Penyusunan model-model agribisnis plan dengan mempertimbangkan kemampuan petani

ü  Kerjasama/kemitraan dengan investor untuk pengembangan komoditas yang memerlukan investasi tinggi

ü  Pembentukan suatu wadah organisasi petani yang kuat dan mengarah kepada organisasi/bisnis bersama yang dapat mengelola, merencenakan dan mengorganisir kegiatan sesudah panen dan sebelum panen.

·            Pengembangan Masyarakat

ü  Pengembangan dan pemberdayaan masalah ekonomi

ü  Peningkatan Sosial Budaya

ü  Pengembangan Mental Spiritual

ü  Pengembangan kelembagaan masyarakat desa

ü  Pembinaan dalam meningkatkan keamanan dalam masyarakat

 

 


KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :

1.   Padi merupakan tanaman utama yang menjadi unggulan di Kabupaten Barito Kuala dan sebagian besar penduduk di Kabupaten Barito Kuala menjadikan bertani padi sebagai mata pencaharian utama.

2.   Kabupaten Barito Kuala bisa tetap menjadi lumbung padi di Provinsi Kalimantan Selatan dengan adanya pengembangan ruang, pengembangan infrastrktur serta pengembangan masyarakat di Kabupaten Barito Kuala.

 

Saran

Berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan diperoleh saran sebagai berikut :

1.  Karena kabupaten Barito Kuala menjadi daerah lumbung padi, kedepannya untuk lebih untuk regenerasi masyarakatnya untuk lebih bisa mempertahankan daerah Barito Kuala tersebut sebagai lumbung padi dengan tetap memperhatikan teknologi dan sumber daya manusianya.

2.  Harus bisa mengseimbangkan antara produksi pada periode panen yang pertama ke periode panen berikutnya agar ketersediannya pangan terkhusus padi bisa terpenuhi dan tercukupi bagi kebutuhan masyarakat.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

Adisasmita. 2006. Pembangunan Pedesaan dan Perkotaan. Graha Ilmu. Yogyakarta.

Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perenanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta.BPFE UGM.

Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2021. Barito Kuala, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala.

Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. Kalimantan Selatan Dalam Angka 2021. Barito Kuala, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala

Firdaus, M. 2012. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta.

Heryansyah, Tedy. 2017. Memahami Pembangunan dan Pengembangan Wilayah.

Kamaluddin, R. 1998. Pengantar Ekonomi Pembangunan: Dilengkapi dengan Analisis Beberapa Aspek Pembangunan Ekonomi Nasional. Lembaga Penelitian Fakultas Ekonomi UI. Jakarta.

Todaro, Michael P, dan Stephen C. Smith. 1983. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga 1. Ghalia Indonesia. Jakarta.

Usman, W., Isnan F. N., dan Bayu M., 2001. Pembangunan Pertanian di Era Globalisasi. LP2KP Pustaka Karya. Yogyakarta.

Mubyarto, 1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta. LP3S.

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Issue Dampak Covid-19 Sektor Peranian di Indonesia

I.              DESKRIPSI MODUL        Modul ini dipersiapkan sebagai bahan perkuliahan Manajemen Agribisnis., materi yang akan dipelajari adalah tentang: 1.   Pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu 2.   Contoh kasus/fenomena/isu dalam agribisnis 3.   Respon/tanggapan terhadap kasus/fenomena/isu agribisnis. II.             TUJUAN PEMBELAJARAN 1.  Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu. 2. Mahasiswa tertanam dan tumbuh minat, kesadaran dan perhatiannya terhadap kasus/fenomena/isu dalam agribisnis. 3.   Mahasiswa mampu memberikan respon/tanggapan terhadap kasus/fenomena/isu agribisnis. III.           TUGAS PEMBELAJARAN Dampak dari pandemi Covid-19 ini dirasakan disemua sektor, tidak terkecuali sektor pertanian dan UMKM pangan. Sektor Pertanian harus...

KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengembangkan agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani. Mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus memenuhi syarat kuantitas, kualitas dan syarat keberlanjutan sehingga memiliki daya saing dan mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau. Pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral karena berperan dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi perekonomian negara. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat diharapkan sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi, baik sebagai penyedia atau sumber bahan baku industri maupun sektor andalan Indonesia selain minyak dan gas bumi. Dalam konsep pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral kare...