BAB I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar Belakang
Indonesia
merupakan negara pertanian sebab perekonomian di Negara Indonesia lebih banyak
berasal dari sektor pertanian, dan hal itu dapat kita lihat dari besarnya
kesempatan kerja dan besarnya jumlah penduduk yang masih tergantung pada sektor
pertanian (Adisasmita, 2006). Sebagian besar mata pencaharian penduduk di
Indonesia adalah berasal dari sektor peertanian. Sektor ini memberi sumbangan
yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) (Firdaus, 2012).
Di Indonesia memiliki dua jenis padi yang
dibudidayakan yaitu padi unggul dan padi lokal. Sedangkan varietasnya ada
berbagai macam varietas yang dibudidayakan. Seperti padi unggul ada beberapa
contohnya padi ciherang, inpara 2 dan inpari 42. Sedangkan untuk padi lokal
contohnya padi siam mutiara, padi siam mayang, padi siam unus, padi siam
arjuna, padi siam mayang.
Pembangunan pertanian di Indonesia tidak lepas dari
Rencana Pembangunan Nasional. Di dalamnya termuat Visi-Misi pembangunan pemerintah nasional yaitu
“terwudunya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian Berlandaskan
Gotong Royong” yang akan diwujudkan melalui tujuh misi pembangunan. Hal
tersebut diteruskan atau di sinergikan oleh Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Daerah (RPJMD) Provinsi Kalimantan Selatan dengan visi “Kalsel Mapan (Mandiri
dan Terdepan) Lebih Sejahtera, Berkeadilan, Berkelanjutan, Berdikari dan
Berdaya Saing” yang mengandung makna bahwa kondisi Kalsel berada dalam kondisi
mapan, yang berarti baik, tidak goyah, dan stabil).
Mengacu pada hal di atas
maka visi dari Kabupaten Barito Kuala seperti yang tertuang dalam RPJMD
2017-2025 yaiu “Barito Kuala 2025 yag Adil, Maju dan Mandiri Berbasis agribisnis”.
Dalam visi tersebut terkandung
nilai-nilai yang dicita-citakan dan diidam-idamkan oleh Pemerintah dan
Masyarakat Kabupaten Barito Kuala (RPJMD Kabupaten Batola, 2016).
Salah satu provinsi penghasil padi lokal
dan padi unggul di Indonesia yaitu Provinsi Kalimantan Selatan. Kabupaten
Barito Kuala adalah salah sau kabupaten di provinsi kalimantan Selatan yang
memiliki tipe lahan A, B, dan C yang Sangat potensial bagi pertanian.Padi merupakan salah satu tanaman pangan
unggulan yang dibudidayakan di Kabupaten Barito Kuala. Kabupaten Barito Kuala
juga adalah daerah penghasil padi terbesar di Kalimantan Selatan.Informasi mengenai
produksi, luas panen dan produktivitas padi di Provinsi Kalimantan Selatan
Tahun 2019 yakni sebagai berikut:
|
|
|
Kabupaten |
Produksi (Ton) |
Luas panen (Ha) |
Produktivitas (Kw/Ha) |
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
|
Tanah
Laut |
117.728,21 |
28.453,79 |
41,38 |
|
Kotabaru |
20.172,26 |
6.340,93 |
31,81 |
|
Banjar |
245.195,57 |
77.013,61 |
31,84 |
|
Barito
Kuala |
284.558,93 |
88.342,77 |
32,21 |
|
Tapin |
161.647,51 |
40.374,98 |
40,04 |
|
Hulu
Sungai Selatan |
124.999,04 |
30.964,51 |
40,37 |
|
Hulu
Sungai Tengah |
134.652,55 |
29.240,03 |
46,05 |
|
Hulu
Sungai Utara |
96.295,76 |
18.285,41 |
52,66 |
|
Tabalong |
56.610,73 |
13.936,89 |
40,62 |
|
Tanah
Bumbu |
55.192,69 |
11.991,54 |
46,03 |
|
Balangan |
19.923,66 |
5.061,63 |
39,36 |
|
Banjarmasin |
19.773,56 |
4.572,46 |
43,25 |
|
Banjarbaru |
6.111,35 |
1.667,40 |
36,65 |
|
Kalimantan Selatan |
1.342.861,82 |
356.245,95 |
37,70 |
Sumber:
BPS Kalimantan Selatan, 2020
1.2. Rumusan
Masalah
Kabupaen Barito Kuala merupakan kabupaten yang sangat
berpotensi dalam sektor pertanian. Lebih dari
50% (persen) luas lahan di Kabupaten Barito Kuala digunakan sebagai
lahan perkebunan dan persawahan. Hal demikian menjadikan Kabupaten Barito Kuala
penghasil hasil pertanian yang cukup besar di Provinsi Kalimantan selatan.
Hasil pertanian utama yang sanga kentara terlihat hasilnya yaitu padi.
Seperti halnya tertuang dalam visi Kabupaten Barito Kuala
yaitu “Barito Kuala 2025 yang Adil, Maju dan Mandiri Berbasis Agribisnis”.
Dalam visi tersebut terkandung nilai-nilai yang dicita-citakan dan
diidam-idamkan bersama oleh Pemerintah dan masyarakat Kabupaten Barito Kuala.
Berdasarkan permasalahan
di atas, rumusan masalah penulisan ini yaitu:
1. Bagaimana data luas tanam, luas panen,
produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Barito Kuala?
2. Bagaimana
cara agar Kabupaten Barito Kuala agar tetap menjadi lumbung padi bagi Provinsi
Kalimantan Selatan?
1.3. Tujuan
1. Untuk memahami data luas tanam, luas panen,
produksi dan produktivitas padi di Kabupaten Barito Kuala.
2. Untuk mengetahui dan memahami cara agar
Kabupaten Barito Kuala agar tetap menjadi lumbunng padi bagi Provinsi
Kalimantan Selatan.
3. Agar bisa memberikan referensi bagi para
petani agar bisa lebih meningkatkan produksi dan produktivitas padi di
Kabupaten Barito Kuala.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pembangunan Pertanian
Menurut
Heryansyah (2017), pembangunan adalah suatu upaya yang secara sadar dilakukan
oleh manusia untuk memanfaatkan lingkungannya untuk kebutuhan hidupnya. Dengan
adanya pembangunan maka kehidupan dan kesejahteraan manusia dapat meningkat.
Pembangunan
diartikan sebagai suatu proses multidimensional yang melibatkan
perubahan-perubahan besar dalam struktur sosial, sikap-sikap mental yang sudah
terbiasa dan lembaga-lembaga nasional termasuk pula percepatan atau akselerasi
pertumbuhan ekonomi , pengurangan ketimpangan dan pemberantasan kemiskinan yang
absolut. Pembangunan pada hakikatnya haruslah menyarakan seluruh nada dasar
perubahan yang dengan itu pula seluruh sistem sosial seirama atau senada dengan
berbagai dasar kebutuhan dan keinginan masing-masing individu dan kelompok-kelompok masyarakat yang bernaung
di dalam sistem itu, bergerak maju dari kondisi kehidupan yang serba kekurangan
dan tidak memuaskan menuju kepada kondisi kehidupan yang jauh lebih baik, baik
materil maupun spiritual, (Todaro, 1983).
Menutut A. T. Mosher dalam Lincolin Arsyad (1999), mengelompokkan syarat-syarat pembangunan pertanian menjadi dua yaitu syarat mutlak dan syarat pelancar. Syarat-syarat mutlak adalah:
1.
Adanya pasar untuk hasi-hasil usaha tani,
2.
Teknelogi yang senantiasa berkembang,
3.
Tersedianya bahan-bahan dan alat-alat produksi secara
lokal,
4.
Adanya perangsang produksi bagi petani,
5.
Adanya pengangkutan yang lancar dan kontinyu.
Adapun yang termasuk dalam syarat-syarat atau sarana pelacar adalah :
1.
Pendidikan pembangunan,
2.
Kredit produksi,
3.
Kegiatan gotong royong petani,
4.
Perbaikan dan perluasan tanah pertanian,
5.
Perencanaan nasional pembangunan pertanian.
Secara umum dapat dikemukakan bahwa
pembangunan pertanian diarahkan untuk
meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani,memperluas lapangan kerja dan
kesempatan usaha, serta mengisi dan memperluas pasar dalam negri maupun luar
negri. Ini dilakukan melalui pertanian yang maju, efisien, dan tangguh sehingga
makin mampu meningkatkan dan menganekaragamkan hasil, meningkatkan mutu dan
derajat pengolahan produksi dan menu jang pembangunan wilayah (Kamaluddin,
1998).
Rencana
pembangunan pertanian di masa yang akan datang, khusus nya di era otonomi
daerah, perlu disusun berdasarkan suatu konsep pembangunan pertanian yang
mengedepankan eksistensi petani sebagai produsen. Hal tersebut memerlukan topangan infrastruktur dan
kebijakan agar proses untuk mengasilkan produk
dapat berlangsung secara effektif dan efisien, produk yang dihasikan
dapat ditingkatkan nilai ekonominya melalui proses pengolahan yang tepat,
produk yang telahdiolah memiliki ketahanan kualitas terhadap rentang waktu
selama proses pemasaran, produk memiliki daya saing di pasaran dalam dan luar
negri (Usman et.al., 2001).
Sektor pertanian harus diposisikan
sebagai sektor andalan perekonomian, berdasarkan kondisi yang dihadapi saat ini
sektor pertanian harus menjadi sektor unggulan dalam menyusun strategi
pembangaunan. Pengembangan sektor pertanian harus diarahkan kepada sistem
agribisnis dan agroindustri, karena akan dapat meningkatkan nilai tambah sektor
pertanian, prospek pengembangan agribisnis dan agroindustri kedepan sangat
baik, hal ini didukung dengan keadaan geografis dan letaknya sangat strategis,
hal ini dapat ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang
bekerja pada sektor pertanian atau dari produk nasional yang berasal dari
pertanian (Mubyarto,1989).
2.2. Pembangunan Pertanian Kabupaten Barito Kuala (BATOLA)
Kabupaten
Barito Kuala berada di bagian barat dari Provinsi kalimanan Selatan dengan
total keseluruhan luas wilayah Kabupaten Barito Kuala adalah 2.996,96 Km2.
Memiliki 17 (tujuh belas) Kecamatan. Kecamatan tersebut yaitu Tabunganen,
Tamban, Mekarsari, Anjir Muara, Anjir Pasar, Alalak, Rantau Badadauh, Barambai,
Belawang, Wanaraya,Cerbon, Bakumpai, Marabahan, Mandastana, Tabukan, Kuripan,
dan Jejagkit.
Kondisi
wilayah Kabupaten Barito Kuala dilalui oleh 3 (tiga) sungai yaitu Sungai
Barito, Sungai Negara, dan Sungai Kapuas yang bermuara ke Laut Jawa. Oleh
karena itu, Kabupaten Barito Kuala memiliki kondisi wilayah yang sangat
srategis. Sungai-sungai tersebut menjadi jalur transportasi angkutan hasil bumi
antar kabupaten maupun antar provinsi. Disamping dijadikan sebagai prasarana
transportasi, Sungai Barito juga diperuntukkan sebagai jaringan irigasi utama
untuk berbagai usaha pertanian dan perikanan
Kabupaten Barito Kuala memiliki potensi besar pada sektor pertanian khususnya pertanian tanaman pangan. Berdasarkan data yang termuat dalam Buku Data dan Informasi Pembangunan Daerah Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016, Kabupaten Barito Kuala memiliki lahan perkebunan seluas 76.496,29 hektar yang erdiri baik dari lahan kebun fungsional maupun kebun potensial. Sedangkan lahan sawah memiliki luas 83.870,54 hektar yang merupaka seluruh luasan sawah yang pada saat ini ada aktivitas pertanian baik tanaman pangan (sawah fungsional) lahan rawa pasang surut.
Tabel
2. Luas Panen Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016-2019
(Ha)
|
No |
Kecamatan |
Luas Panen |
|||
|
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
||
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
1 |
Tabunganen |
12.810 |
12.686 |
12.665 |
12.369 |
|
2 |
Tamban |
7.827 |
7.769 |
7.952 |
8.169 |
|
3 |
Mekarsari |
7.144 |
7.029 |
6.487 |
7.322 |
|
4 |
Anjiar Pasar |
8.830 |
8.705 |
9.212 |
8.794 |
|
5 |
Anjir Muara |
8.155 |
7.962 |
7.861 |
8.028 |
|
6 |
Alalak |
4.530 |
4.371 |
3.630 |
4.218 |
|
7 |
Mandastana |
5.526 |
5.457 |
5.551 |
5.622 |
|
8 |
Jejangkit |
2.753 |
2.752 |
4.309 |
1.787 |
|
9 |
Belawang |
5.217 |
4.987 |
5.872 |
5.003 |
|
10 |
Wanaraya |
2.996 |
2.918 |
3.066 |
2.435 |
|
11 |
Barambai |
8.383 |
8.604 |
8.463 |
8.057 |
|
12 |
Rantau Badauh |
7.944 |
7.632 |
7.933 |
7.074 |
|
13 |
Cerbon |
5.668 |
5.523 |
5.552 |
5.626 |
|
14 |
Bakumpai |
4.777 |
4.684 |
4.887 |
5.215 |
|
15 |
Marabahan |
4.025 |
4.030 |
4.033 |
4.589 |
|
16 |
Tabukan |
3.725 |
5.940 |
6.005 |
6.095 |
|
17 |
Kuripan |
37 |
177 |
260 |
130 |
|
Barito Kuala |
100.348 |
101.226 |
103.738 |
100.531 |
|
Sumber
: BPS Barito Kuala 2017 – 2020
Dilihat dari tabel di atas ada 17 kecamatan di Barito
Kuala dari Tabunganen sampai dengan Kuripan, Dan tabel diatas menunjukan luas
panen tertinggi berada pada kecamatan Tabunganen dengan luas 12.810Ha pada tahun 2016,kemudian di tahun 2017
menurun menjadi 12.686 Ha, tahun 2018
juga turu kembali menjadi 12.665 Ha dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi
12.369 Ha. Sedangkan
Kecamatan yang paling rendah luas panen yaitu di kecamatan Kuripan dengan luas panen sebesar 37 Ha di tahun 2016,kemudian di tahun 2017 naik
menjadi 177 Ha, tahun 2018
naik kembali menjadi 260 dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 130 Ha.
Tabel
3. Data Produksi Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun 2016 –
2019 (Ton)
|
No |
Kecamatan |
Produksi |
|||
|
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
||
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
1 |
Tabunganen |
42.785 |
49.055 |
45.189 |
39.668 |
|
2 |
Tamban |
26.080 |
29.465 |
28.352 |
26.183 |
|
3 |
Mekarsari |
23.811 |
26.771 |
23.005 |
23.458 |
|
4 |
Anjiar Pasar |
29.438 |
33.822 |
32.762 |
28.185 |
|
5 |
Anjir Muara |
27.192 |
30.613 |
27.832 |
25.729 |
|
6 |
Alalak |
15.076 |
16.975 |
12.918 |
13.513 |
|
7 |
Mandastana |
18.402 |
21.371 |
19.890 |
18.019 |
|
8 |
Jejangkit |
9.148 |
10.482 |
15.354 |
5.727 |
|
9 |
Belawang |
17.373 |
19.425 |
20.888 |
16.025 |
|
10 |
Wanaraya |
9.148 |
11.138 |
10.945 |
7.801 |
|
11 |
Barambai |
27.941 |
32.930 |
30.076 |
25.822 |
|
12 |
Rantau Badauh |
26.469 |
29.359 |
28.166 |
22.673 |
|
13 |
Cerbon |
18.874 |
21.052 |
19.810 |
18.031 |
|
14 |
Bakumpai |
15.898 |
18.387 |
17.543 |
16.708 |
|
15 |
Marabahan |
13.395 |
15.443 |
14.371 |
14.694 |
|
16 |
Tabukan |
45.388 |
22.788 |
21.310 |
19.533 |
|
17 |
Kuripan |
123 |
682 |
920 |
416 |
|
Barito Kuala |
344.345 |
389.758 |
369.331 |
322.185 |
|
Sumber : BPS Barito Kuala 2017 – 2020
Jika dilihat dari tabel di atas ada 17 kecamatan di barito kuala dari Tabunganen sampai dengan Kuripan, Dan tabel diatas menunjukan produksi panen tertinggi berada pada kecamatan Tabunganen dengan menghasilkan42.785 ton pada tahun 2016,kemudian di tahun 2017 menurun menjadi 49.055 ton, tahun 2018 naik kembali menjadi 45.189 ton dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 39.668ton. Sedangkan Kecamatan yang paling rendah produksinya yaitu di kecamatan Kuripan dengan hasilpanen sebesar 123 ton di tahun 2016,kemudian di tahun 2017 naik menjadi 682 ton, tahun 2018 naik kembali menjadi 920ton dan terakhir kembali turun di tahun 2019 menjdi 416 ton.dan dapat di lihat pada Gambar 2.
Tabel
5. Data Produktifitas Padi Menurut Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala Tahun
2016-2019 (Kw/Ha)
|
No |
Kecamatan |
Produktifitas |
|||
|
2016 |
2017 |
2018 |
2019 |
||
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
1 |
Tabunganen |
33,4 |
38,7 |
35,7 |
32,1 |
|
2 |
Tamban |
33,3 |
37,9 |
35,7 |
32,1 |
|
3 |
Mekarsari |
33,3 |
38,1 |
35,5 |
32 |
|
4 |
Anjiar Pasar |
33,3 |
38,9 |
35,6 |
32,1 |
|
5 |
Anjir Muara |
33,3 |
38,5 |
35,4 |
32,1 |
|
6 |
Alalak |
33,3 |
38,8 |
35,6 |
32 |
|
7 |
Mandastana |
33,3 |
39,2 |
35,8 |
32,1 |
|
8 |
Jejangkit |
33,2 |
38,1 |
35,6 |
32,1 |
|
9 |
Belawang |
33,3 |
39 |
35,6 |
32 |
|
10 |
Wanaraya |
33,2 |
38,2 |
35,7 |
32 |
|
11 |
Barambai |
33,3 |
38,3 |
35,5 |
32,1 |
|
12 |
Rantau Badauh |
33,3 |
38,5 |
35,5 |
32,1 |
|
13 |
Cerbon |
33,4 |
38,1 |
35,7 |
32,1 |
|
14 |
Bakumpai |
33,4 |
39,3 |
35,9 |
32 |
|
15 |
Marabahan |
33,3 |
38,3 |
35,6 |
32 |
|
16 |
Tabukan |
33,4 |
38,4 |
35,5 |
32,1 |
|
17 |
Kuripan |
33,4 |
38,5 |
35,4 |
32 |
|
Barito Kuala |
33,3 |
38,5 |
35,6 |
32,1 |
|
Sumber
: BPS Barito Kuala 2017 - 2020
Dilihat dari Tabel 5 diatas, dari 17 Kecamatan di Kabupaten Barito Kuala terdapat 5 kecamatan yang produktifitasnya tertinggi di tahun 2016 yaitu Kecamatan Tabunganen, Kecamatan Cerbon, Kecamatan Bakumpai,KecamatanTabukan dan Kecamatan Kuripan yaitu senilai 33,4 Kw/Ha. Di tahun 2017 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan bakumpai yaitu senilai 39,3 Kw/Ha. Di Tahun 2018 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan Bakumpai yaitu senilai 35,9 Kw/Ha dan terakhir pada tahun 2019 produktifitas tertinggi terdapat pada Kecamatan Tabunganen, Kecamatan Tamban, Kecamatan Anjir Pasar, Kecamatan Anjir Muara, Kecamatan Mandastana, Kecamatan Jejangkit, Kecamatan Barambai Kecamatan Rantau Badauh, Kecamatan Cerbon dan Kecamatan Tabukan. yaitu senilai 32, 1 Kw/Ha.
Tabel 6. Data Luas
Tanam, Panen, Provitas dan Produksi Padi Lokal tahun 2020
|
No |
Nama Kecamatan |
Tanam |
Panen |
Provitas |
Produksi |
|
Ha |
Ha |
Kw/Ha |
Ton |
||
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
1 |
Tabunganen |
13.323 |
12.552 |
40,02 |
50.232 |
|
2 |
Tamban |
8.629 |
7.988 |
39,31 |
31.401 |
|
3 |
Mekarsari |
3.657 |
3.543 |
35,55 |
12.597 |
|
4 |
Anjir
Pasar |
8.596 |
8.280 |
39,72 |
32.888 |
|
5 |
Anjir
Muara |
8.655 |
8.342 |
39,95 |
33.326 |
|
6 |
Alalak |
4.281 |
4.153 |
35,42 |
14.708 |
|
7 |
Mandastana |
5.565 |
5.398 |
36,82 |
19.876 |
|
8 |
Jejangkit |
2.490 |
2.410 |
35,62 |
8.586 |
|
9 |
Belawang |
5.645 |
5.047 |
36,08 |
18.209 |
|
10 |
Wanaraya |
1.913 |
1.868 |
34,02 |
6.356 |
|
11 |
Barambai |
8.433 |
8.136 |
39,62 |
32.236 |
|
12 |
Rantau
Badauh |
7.010 |
6.800 |
38,92 |
26.464 |
|
13 |
Cerbon |
5.822 |
5.662 |
36,92 |
20.904 |
|
14 |
Bakumpai |
4.274 |
3.802 |
35,92 |
13.658 |
|
15 |
Marabahan |
4.230 |
4.094 |
35,62 |
14.584 |
|
16 |
Tabukan |
4.696 |
4.555 |
35,75 |
16.285 |
|
17 |
Kuripan |
110 |
121 |
34,02 |
412 |
|
Jumlah |
97.329 |
92.751 |
37,02 |
352.722 |
|
Sumber: Dinas Pertanian, 2021
Tabel 8. Data Luas
Tanam, Panen, Provitas dan Produksi Padi Unggul Tahun2020
|
No |
Nama Kecamatan |
Tanam |
Panen |
Provitas |
Produksi |
|
Ha |
Ha |
Kw/Ha |
Ton |
||
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
1 |
Tabunganen |
|
579 |
35,98 |
2.084 |
|
2 |
Tamban |
914 |
1.255 |
38,81 |
4.871 |
|
3 |
Mekarsari |
3.319 |
2.921 |
39,94 |
11.665 |
|
4 |
Anjir
Pasar |
685 |
122 |
33,26 |
407 |
|
5 |
Anjir
Muara |
3.214 |
3.082 |
41,62 |
12.826 |
|
6 |
Alalak |
320 |
96 |
31,26 |
300 |
|
7 |
Mandastana |
4.540 |
4.206 |
42,26 |
17.774 |
|
8 |
Jejangkit |
952 |
814 |
36,46 |
2.967 |
|
9 |
Belawang |
2.030 |
2.398 |
39,56 |
9.486 |
|
10 |
Wanaraya |
381 |
408 |
35,76 |
1.460 |
|
11 |
Barambai |
2.407 |
2.198 |
39,56 |
8.695 |
|
12 |
Rantau
Badauh |
3.032 |
1.689 |
38,96 |
6.579 |
|
13 |
Cerbon |
161 |
156 |
33,26 |
519 |
|
14 |
Bakumpai |
510 |
847 |
36,96 |
3.130 |
|
15 |
Marabahan |
320 |
223 |
33,76 |
753 |
|
16 |
Tabukan |
1.924 |
1.847 |
38,76 |
7.159 |
|
17 |
Kuripan |
30 |
- |
- |
- |
|
Jumlah |
24.953 |
22.841 |
37,26 |
90.675 |
|
Sumber: Dinas Pertanian, 2021
Berdasarkan
paparan diatas menunjukkan bahwa dominasi sektor pertanian sangat besar dalam
perekonomian di Kabupaten Barito Kuala. Akan tetapi ada hal yang harus
diperhatikan yakni terkait dengan masalah tingkat kemiskinan, hal ini
ditunjukan masih cukup tingginya persentase kemiskinan Kab. Barito Kuala
walaupun setiap tahun Kabupaten Barito Kuala selalu mengalami pertumbuhan
penduduk yang cukup tinggi.
Tabel 9. Data Jumlah Penduduk Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan Tahun 2015 -2020
|
Kabupaten |
Jumlah
Penduduk Menurut Jenis Kelamin (Jiwa) |
|||||
|
2020 |
2019 |
2018 |
2017 |
2016 |
2015 |
|
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
(7) |
|
Tanah Laut |
348,623 |
343,890 |
339,195 |
334,328 |
329,286 |
324,283 |
|
Kotabaru |
347,399 |
342,217 |
336,719 |
331,326 |
325,827 |
320,208 |
|
Banjar |
596,001 |
588,066 |
580,026 |
571,573 |
563,062 |
554,443 |
|
Barito Kuala |
317,181 |
313,595 |
310,016 |
306,195 |
302,304 |
298,282 |
|
Tapin |
193,635 |
191,372 |
189,081 |
186,672 |
184,330 |
181,778 |
|
Hulu Sungai Selatan |
240,279 |
237,702 |
235,217 |
232,587 |
229,889 |
227,153 |
|
Hulu Sungai Tengah |
275,213 |
272,419 |
269,384 |
266,501 |
263,376 |
260,292 |
|
Hulu Sungai Utara |
240,494 |
237,573 |
234,604 |
231,594 |
228,528 |
225,386 |
|
Tabalong |
257,794 |
254,322 |
250,809 |
247,106 |
243,477 |
239,593 |
|
Tanah Bumbu |
368,362 |
360,187 |
351,673 |
343,193 |
334,314 |
325,115 |
|
Balangan |
133,274 |
131,428 |
129,505 |
127,503 |
125,534 |
123,449 |
|
Kota Banjarmasin |
715,703 |
708,606 |
700,869 |
692,793 |
684,183 |
675,440 |
|
Kota Banjar Baru |
270,021 |
262,719 |
255,597 |
248,423 |
241,369 |
234,371 |
Sumber: BPS Kalimantan Selatan, 2021
Dari tabel diatas
menunjukkan bahwa selama periode tahun 2015 s.d 2019 di Kabupaten Barito Kuala
mengalami pertumbuhan penduduk yang cukup tinggi yakni ± 3,719 jiwa setiap
tahunnya, tetapi persentase tingkat kemiskinan pada Kab. Barito Kuala masih
cukup tinggi di Kalimantan Selatan.
Tabel 10. Persentase Penduduk
Miskin Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan
Tahun
2015-2019
|
Kabupaten |
Persentase Penduduk miskin |
||||
|
2019 |
2018 |
2017 |
2016 |
2015 |
|
|
(1) |
(2) |
(3) |
(4) |
(5) |
(6) |
|
Tanah Laut |
4.51 |
4.40 |
4.60 |
4.65 |
4.58 |
|
Kotabaru |
4.49 |
4.52 |
4.38 |
4.56 |
4.62 |
|
Banjar |
2.72 |
2.70 |
2.96 |
3.10 |
3.26 |
|
Barito Kuala |
4.63 |
4.56 |
5.13 |
5.22 |
5.37 |
|
Tapin |
3.41 |
3.70 |
3.77 |
3.70 |
3.88 |
|
Hulu Sungai Selatan |
5.33 |
5.21 |
5.80 |
6.29 |
6.45 |
|
Hulu Sungai Tengah |
5.93 |
6.01 |
6.09 |
6.18 |
5.81 |
|
Hulu Sungai Utara |
6.50 |
6.38 |
6.65 |
6.76 |
7.07 |
|
Tabalong |
6.01 |
5.95 |
6.09 |
6.35 |
6.59 |
|
Tanah Bumbu |
4.85 |
4.88 |
4.99 |
5.27 |
5.55 |
|
Balangan |
5.55 |
5.59 |
5.68 |
5.67 |
5.87 |
|
Kota Banjarmasin |
4.20 |
4.18 |
4.19 |
4.22 |
4.44 |
|
Kota Banjar Baru |
4.30 |
4.19 |
4.68 |
4.62 |
4.90 |
Sumber: BPS Kalimantan
Selatan, 2021
Tabel diatas menunjukkan bahwa persentase penduduk miskin di Kalimantan
Selatan periode tahun 2015 s.d2018 Kabupaten Barito Kuala mengalami penurunan
dengan rata-rata ± 0,27 %, tetapi pada tahun 2019 mengalami kenaikan 0,07 %
sehingga menjadi 4,63 % dan menempatkan posisi Kabupaten Barito Kuala posisi ke
7 dari 13 Kabupaten di Kalimantan Selatan.
Dari hasil uraian keseluruhan diatas agar Kab. Barito Kuala tetap
menjadi lumbung padi bagi Provinsi Kalimantan Selatan dan kedepannya semakin
baik untuk itu beberapa hal yang harus dilakukan dalam pembangunan pertanian
yakni:
·
Pengembangan Ruang.
Bertujuan mengembangkan
kawasan pedesaan menjadi suatu kawasan yang terpadu dan mandiri dengan
melakukan penataan permukiman/relokasi permukiman yang tidak memenuhi kelayakan
hunian, optimalisasi lahan, peningkatan dan pembangunan jaringan jalan raya
untuk menghubungkan antar kawasan sehingga mempermudah akses ekonomi dan
pertanian, pembangunan prasarana dan sarana sosial ekonomi yang dibutuhkan
untuk mendukung pusat-pusat pertumbuhan sesuai dengan fungsinya.
·
Pengembangan Infrastruktur
Melakukan pengembangan infrasturktur yakni seperti jalan
usaha tani, terminal, sarana kesehatan dan pendidikan, sarana fasilitas umum
dan pasar.
·
Pengembangan Usaha
ü Pengembangan komoditas unggulan sesuai
dengan keunggulan komparatif/potensi yang dimiliki
ü Penyusunan model-model agribisnis plan
dengan mempertimbangkan kemampuan petani
ü Kerjasama/kemitraan dengan investor
untuk pengembangan komoditas yang memerlukan investasi tinggi
ü Pembentukan suatu wadah organisasi
petani yang kuat dan mengarah kepada organisasi/bisnis bersama yang dapat
mengelola, merencenakan dan mengorganisir kegiatan sesudah panen dan sebelum
panen.
·
Pengembangan Masyarakat
ü Pengembangan dan pemberdayaan masalah
ekonomi
ü Peningkatan Sosial Budaya
ü Pengembangan Mental Spiritual
ü Pengembangan kelembagaan masyarakat desa
ü Pembinaan dalam meningkatkan keamanan
dalam masyarakat
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah
disampaikan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1.
Padi
merupakan tanaman utama yang menjadi unggulan di Kabupaten Barito Kuala dan
sebagian besar penduduk di Kabupaten Barito Kuala menjadikan bertani padi
sebagai mata pencaharian utama.
2.
Kabupaten
Barito Kuala bisa tetap menjadi lumbung padi di Provinsi Kalimantan Selatan
dengan adanya pengembangan ruang, pengembangan infrastrktur serta pengembangan
masyarakat di Kabupaten Barito Kuala.
Saran
Berdasarkan penjelasan yang telah
disampaikan diperoleh saran sebagai
berikut :
1. Karena kabupaten Barito Kuala menjadi daerah lumbung
padi, kedepannya untuk lebih untuk regenerasi masyarakatnya untuk lebih bisa
mempertahankan daerah Barito Kuala tersebut sebagai lumbung padi dengan tetap
memperhatikan teknologi dan sumber daya manusianya.
2. Harus bisa mengseimbangkan antara produksi pada periode
panen yang pertama ke periode panen berikutnya agar ketersediannya pangan
terkhusus padi bisa terpenuhi dan tercukupi bagi kebutuhan masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmita. 2006. Pembangunan
Pedesaan dan Perkotaan. Graha Ilmu. Yogyakarta.
Arsyad, Lincolin. 1999. Pengantar Perenanaan dan Pembangunan Ekonomi Daerah. Yogyakarta.BPFE
UGM.
Badan
Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala.
Kabupaten Barito Kuala Dalam Angka 2021. Barito Kuala, Badan Pusat Statistik Kabupaten Barito
Kuala.
Badan
Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Selatan. Kalimantan
Selatan Dalam Angka 2021.
Barito Kuala, Badan
Pusat Statistik Kabupaten Barito Kuala
Firdaus, M. 2012. Manajemen
Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta.
Heryansyah, Tedy. 2017. Memahami Pembangunan dan Pengembangan Wilayah.
Kamaluddin, R. 1998. Pengantar
Ekonomi Pembangunan: Dilengkapi dengan Analisis Beberapa Aspek Pembangunan
Ekonomi Nasional. Lembaga Penelitian Fakultas Ekonomi UI. Jakarta.
Todaro, Michael P, dan Stephen C. Smith. 1983. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga 1. Ghalia
Indonesia. Jakarta.
Usman, W., Isnan F. N., dan Bayu M., 2001. Pembangunan Pertanian di Era Globalisasi. LP2KP
Pustaka Karya. Yogyakarta.
Mubyarto,
1989. Pengantar Ekonomi Pertanian. Jakarta.
LP3S.
Komentar
Posting Komentar