1. Pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu
II.
TUJUAN
PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu.
2. Mahasiswa tertanam dan tumbuh minat, kesadaran dan perhatiannya terhadap kasus/fenomena/isu dalam agribisnis.
3. Mahasiswa mampu memberikan
respon/tanggapan terhadap kasus/fenomena/isu agribisnis.
III.
TUGAS
PEMBELAJARAN
Dampak dari pandemi Covid-19 ini
dirasakan disemua sektor, tidak terkecuali sektor pertanian dan UMKM pangan.
Sektor Pertanian harus kuat dalam menghadapi pandemi Covid-19, karena berkaitan
langsung dengan kebutuhan dasar umat manusia.
Dampak pandemi COVID-19 yang paling
dirasakan petani ialah harga produk pertanian yang mengalami penurunan drastis
disebabkan daya beli masyarakat yang turun. Hal ini tidak sebanding dengan
usaha dan biaya operasional yang dikeluarkan petani saat melakukan budidaya. Selain itu,
saat ini pemerintah telah memberlakukan kebijakan mensosialisasikan dan
menerapkan social distancing, physical distancing, work from home (WFH), dan
pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang tercantum pada peraturan
pemerintah RI No. 21 tahun 2020.
Berikut
ini beberapa contoh kasus/fenomena/isu dalam Agribisnis selama periode tahun 2020 s.d 2021
antara lain yakni:
1. Komoditas Hortikultura
(Dampak
Pandemi Covid 19 Terhadap Pendapatan Petani Sayuran Di Kota Ternate).
Pendapatan merupakan penerimaan yang
diperoleh dalam usahatani dikurangi dengan
semua biaya yang dikeluarkan usahatani dalam satu musim tanam. Berikut ini pendapatan
sayuran petani Kota Ternate selama masa pandemi Covid-19.
Tabel
3. Produksi & Penerimaan serta pendapatan rata-rata petani
sayuran bulan Maret-Juni 2020.
Tabel
4. Produksi & Penerimaan serta pendapatan rata-rata petani
sayuran bulan Juli - September 2020.
Tabel 5. Diferansiasi harga jual dan pendapatan antara periode maret-juni dan periode juli-september 2020

Dampak pandemi covid 19 pada pendapatan yang diperoleh petani di kota Ternate cukup signifikan pada petani sayuran yaitu bahwa pada komoditi sayuran kangkung, sawi dan bayam terjadi kenaikan harga jual berkisar antara 30-33 %.
Hasil identifikasi bahwa situasi ini terjadi karena ketiga jenis sayuran
tersebut adalah sayuran utama yang dikonsumsi oleh masyarakat lokal. Dimana
jika situasi normal maka suplai ketiga sayuran tersebut untuk kebutuhan Kota
Ternate didatangkan dari beberapa wilayah seperti Kota Tidore Kepulauan,
Kabupaten Halmahera Utara, Barat, Timur serta Halmahera Selatan.
Pada saat terjadi pembatasan akses,
suplai sayuran dipasar tidak bisa didatangkan dari
luar wilayah Ternate, sehingga suplai hanya tergantung pada stok yang ada di
petani yang berdomisili di Kota Ternate. Untuk Tanaman kangkung yang biasa dijual di pasar
lokal terdiri dari varietas kangkung tanah dan kangkung air, sehingga stoknya
sedikit lebih banyak dari bayam dan sawi yang hanya bersumber dari lahan
usahatani petani lokal di Kota Ternate.
Situasi komoditi terong harga
jualnya tetap stabil dipasaran karena terung kebanyakan dikonsumsi untuk
kepentingan menu bagi acara-acara kultural seperti kedukaan dan kawinan
sehingga tingkat konsumsinya tidak setinggi dbandingkan ketiga sayuran
tersebut.
Sementara untuk komoditi cabe, terjadi penurunan harga ditingkat petani
sampai mencapai 36,7 %yang menyebabkan petani memperoleh pendapatan yang rendah
dan memilih menjual dengan harga yang murah. Pada saat tersebut
kebanyakan restoran dan rumah makan yang biasa membeli dalam jumlah banyak
ditutup selama periode awal pandemi. Kondisi lainnya yaitu bahwa stok cabe
didatangkan dari luar Maluku Utara yaitu dari Manado, dimana saat awal
tersebut, transportasi dari Manado masih ada
akses ke Ternate dan stok pasokan cabe juga didatangkan dalam jumlah
besar sementara tingkat permintaan konsumen terhadap cabe mengalami penurunan.
Bagaimana solusinya agar sayuran
yang di jual oleh petani sayuran di masa pandemic Covid-19 dapat tetap dibeli
seperti biasa tanpa menurunkan harga jual dari sayuran tersebut?
Langkah yang dapat dilakukan yakni untuk sayuran dan buah-buahan yang
sifatnya lebih cepat busuk dapat dibeli oleh BUMDes untuk diolah lebih lanjut
menjadi produk yang lebih tahan lama, bubuk cabe, seperti saus, manisan, dan
lain-lain, untuk pengolahannya mengoptimalkan tenaga kerja setempat dengan dikerjakan
di rumah masing-masing. Solusi tersebut akan aman karena tetap bisa menjaga
jarak, sekaligus dapat menambah penghasilan warga di tengah kesulitan ekonomi
akibat pandemi.
· Sehingga untuk di petani sayuran di
Kota ternate dapat menjadikan cabe dijual menjadi cabai kering atau pun dapat
dijadikan bubuk cabai. Hal ini dapat digunakan sebagai solusi apabila dalam
fase ke dua pembatasan yang dilakukan oleh pemerintah.
· Untuk sayuran yang cepat busuk sebaiknya dilakukan penanaman dengan
melakukan evaluasi penjualan di setiap harinya, dengan begitu petani sayuran
dapat memprediksi jumlah yang dapat terjual tanpa harus mengurangi harga jual
dari sayuran tersebut.
· Petani sayur harus melakukan kerjasama dengan pihak kemitraan, walaupun petani
harus menurunkan sedikit harga jual seperti biasanya.
2. Komoditas Cabai
Pandemi Covid-19 berdampak
pada penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia
sebesar minus
4,19% pada triwulan
II-2020 (q to q), namun sektor
pertanian dalam arti luas tumbuh positif
sebesar 16,24%, dan subsektor hortikultura tumbuh 21,75%. Melalui data tersebut, dapat diketahui
adanya deflasi atau penurunan
harga sebesar minus 0,10%
pada Juli 2020 dibandingkan Juni 2020. Penurunan harga
terbesar terjadi pada kelompok
makanan, minuman, dan tembakau
sebesar minus 0,73%. Produk
hortikultura bawang merah, bawang putih, dan cabai rawit termasuk komoditas pangan yang turun harganya.
Pada awal masa pandemi Covid-19 (Maret-Mei 2020) produksi cabai besar
justru meningkat, selanjutnya sedikit menurun pada bulan Juni hingga Agustus
2020. Peningkatan produksi bulan Maret 2020 hingga Mei 2020, sama seperti
kecenderungan peningkatan produksi pada tahun 2019, yang utamanya disebabkan
karena memasuki musim kemarau namun curah hujan masih cukup. Demikian pula
bulan Juni, Juli dan Agustus 2020 terjadi penurunan produksi cabai besar,
dengan kecenderungan penurunan produksi yang sama dengan tahun 2019.
Grafik
1. Produksi Cabai Besar dan Cabai Rawit.
Selama pandemi Covid-19, pada bulan Maret 2020 harga cabai besar masih
menunjukkan kecenderungan meningkat,
mencapai harga tertinggi pada bulan Juli
2020 yaitu sebesar Rp34.150/kg. Bulan
Agustus 2020 harga sedikit menurun (1%) dibandingkan bulan Juli 2020. Namun demikian, dibandingkan tahun sebelumnya (2019), sebelum pandemi Covid-19, puncak harga cabai besar tahun
2020 tidak setinggi puncak harga tertinggi tahun 2019. Harga tertinggi tahun 2020 dicapai bulan Juli 2020, yaitu sebesar Rp34.150/kg lebih rendah 22% dibandingkan puncak harga tahun 2019 yang sebesar Rp41.750/kg.
Petani juga mengalami kesulitan memasarkan produk sayuran
terkait dengan penerapan PSBB. Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) Nomor 25 Tahun 2020 melarang perjalanan darat, laut dan udara dari zona merah penularan Covid-19 guna mencegah pergerakan orang secara besar- besaran sepanjang libur
Hari Raya Idul Fitri. Peraturan tersebut menetapkan titik pemeriksaan
transportasi pada beberapa akses utama seperti jalan tol dan pelabuhan. Untuk
transportasi barang, truk yang mengangkut barang pokok, logistik dan pasok
medis dikecualikan (Pasal 5), tetapi titik-titik pemeriksaan akan menyebabkan antrian padat pada pendistribusian pangan (Patunru et al. 2020).
Harga cabai merah yang anjlok dan
susah dijual dialami oleh petani sayur-mayur di Kabupaten Badung dan Bangli,
Provinsi Bali. Petani cabai merah dari Desa Bayunggede, Kecamatan Kintamani,
Kabupaten Bangli pada bulan Agustus 2020 menjual cabai merah besar dengan harga
Rp7.000/kg, sementara biaya produksinya Rp14.000/kg. Petani cabai merah di Desa
Kedisan. Kecamatan Kintamani, harga cabai merah pernah merosot hingga
Rp2.000/kg, walaupun sekarang sudah naik menjadi Rp12.000/kg (Rina 2020). Petani
cabai dari Kabupaten Siak hanya bisa menjual cabai dengan harga Rp10.000/kg
(Sugianto 2020).
Grafik
2. Harga bulanan cabai besar Januari 2019 sampai Agustus 2020.
|
|
Dari grafik di atas terlihat bahwa pola fluktuasi harga cabai bulanan
tahun 2020 (sampai Agustus) mirip dengan pola tahun 2019. Hal yang menarik pada awal pandemi (Maret-April 2020) harga cabai masih
tinggi, tetapi kemudian turun tajam pada Mei-Juni 2020 dan kembali naik pada
Juli-Agustus 2020. Hal tersebut diduga terkait dengan terjadinya produksi yang
berfluktuasi, sehingga pada saat produksi melimpah harga akan turun.
Bagaimana solusinya agar cabai dapat
memenuhi kebutuhan nasional selama pandemi Covid-19?
“dikaji lebih lanjut terkait PSBB dikarenakan dapat menyebabkan gangguan
pasokan dan keterlambatan pengiriman, sehingga terjadi kelangkaan dan kenaikan
harga dan penurunan pendapatan masyarakat yang menyebabkan permintaan menurun”
Sebaiknya peran pemerintah dalam hal
ini yaitu?
“(1) memastikan bahwa seluruh rantai pasok pangan tetap aktif dan tidak
terganggu, (2) tetap menjaga etos kerja petani untuk memproduksi cabai, (3)
memberikan jaminan harga jual produk yang menguntungkan petani, dan (4)
menyediakan sarana pendukung dan teknologi pascapanen”.
3. Kemitraan (Pengembangan Kemitraan Closed Loop Hortikultura Atasi Kesenjangan
Produksi dan Pemasaran).
Di
tengah ketidakpastian perekonomian global terhadap pandemi COVID-19,
fundamental perekonomian Indonesia diprediksikan pulih di tahun 2021 dengan
pertumbuhan di kisaran 4,5 s.d. 5,5 persen. Sektor pertanian merupakan
satu-satunya sektor yang mengalami pertumbuhan positif di antara lima sektor
terbesar di Indonesia yaitu dengan tumbuh sebesar 1,75%. Komoditas hortikultura
pada tahun 2020 menunjukkan pertumbuhan tertinggi dibanding komoditas pertanian
lainnya, yaitu sebesar 4,17%, dan memberikan kontribusi kepada PDB Pertanian
sebesar 11,84 persen. Pertumbuhan tersebut membuktikan bahwa sektor pertanian
resilien dalam masa pandemi Covid-19.
Menindaklanjuti adanya pademic Covid-19 yang sejauh ini belum diketahui berakhir sampai kapan oleh karna itu Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian melakukan Pengembangan Kemitraan Closed Loop Hortikultura (Siaran Pers HM.4.6/12/SET.M.EKON.3/02/2021. www.ekon.go.id
Tujuan Kemitraan Closed Loop Hortikultura:
“Membangun ekosistem rantai pasok dan rantai nilai dari hulu sampai
dengan hilir yang terintegrasi dan bersifat end to end model, dimana petani
diajarkan budidaya sesuai good agricultural practices dengan memperhatikan pola
tanam, pola panen, penanganan pasca panen hingga distribusi dan pemasaran untuk
menghasilkan produk berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan pasar”
Peran Pemerintah dalam Kemitraan Closed Loop Hortikultura:
“Memastikan akan terus mendukung berbagai inisiatif
kolaboratif seperti inklusif closed loop yang melibatkan
petani, koperasi, perbankan, hingga off taker”
Siapa saja yang Stakeholders yang menyongsong Kemitraan Closed Loop
Hortikultura:
1.
Asisten
Deputi Pengembangan Agribisnis Hortikultura.
2.
Pengganti
sementara Pemimpin Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 PT BNI
3. Ketua Komite Tetap Hortikultura KADIN Indonesia
4. Kepala Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB
5. Managing Director PT East West Seed Indonesia
6. Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk
7. Executive Director dari Yayasan Mercy Corps Indonesia
8. Direktur Utama PT Pasar Komoditas Nasional
Indonesia (Paskomnas)
9.
Ketua
Kelompok Tani Tani Mandiri Kabupaten Sukabumi.
Tanggapan terkait kemitraan closed loop
holtikultura:
“Program kemitaraan Closed Loop Holtikultura merupakan langkah yang baik untuk mengatasi permasalahan yang terjadi di komuditi hotikultura, tetapi masih perlu dilakukan analisa lebih jauh terkait program ini yang baru di bentuk 03 February 2021".
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia Siaran PersHM.4.6/12/SET.M.EKON.3/02/2021 dalam www.ekon.go.id.
Patunru A, Octania G, Audrin P. 2020. Penanganan gangguan rantai pasok pangan di masapembatasan sosial. https://id.cips- indonesia.org/post/ringkasan-kebijakan-penanganan-gangguan-rantai- pasok-pangan-di-masa-pembatasan-sosial
Sugianto. 2020. Petani keluhkan harga cabai anjlok di masa Pandemi Covid-19. layarberita.com. https://layarberita.com/06/06/2020/petani-keluhkan-harga-cabai-anjlok-di-masa-pandemi-covid-19.
Sarni dan Mardiyani Sidayat, Dampak Pandemi Covid 19 Terhadap Pendapatan Petani Sayuran Di Kota Ternate.




Komentar
Posting Komentar