Langsung ke konten utama

TEORI-TEORI TENTANG PEMBANGUNAN PERTANIAN

 


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa difahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising), meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan. Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris yang berarti Negara yang mengandalkan sektor pertanian baik sebagai sumber mata pencaharian maupun sebagai penopang pembangunan. Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman bahan makanan, subsektor holtikultura, subsektor perikanan, subsektor peternakan, dan subsektor kehutanan. Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat dominan dalam pendapatan masyarakat di Indonesia karena mayoritas penduduk Indonesia bekerja sebagai petani. Namun produktivitas pertanian masih jauh dari harapan. Salah satu faktor penyebab kurangnya produktivitas pertanian adalah sumber daya manusia yang masih rendah dalam mengolah lahan pertanian dan hasilnya. Mayoritas petani di Indonesia masih menggunakan sistem manual dalam pengolahan lahan pertanian. Pembangunan ekonomi adalah salah satu tolak ukur untuk menunjukkan adanya pembangunan ekonomi suatu daerah, dengan kata lain pertumbuhan ekonomi dapat memperlihatkan adanya pembangunan ekonomi (Sukirno, Sadono; 2007). Namun, pembangunan tidak sekedar ditunjukkan oleh prestasi pertumbuhan ekonomi yang dicapai oleh suatu negara, akan tetapi lebih dari itu pembangunan mempunyai perspektif yang lebih luas. Dimensi sosial yang sering diabaikan dalam pendekatan pertumbuhan ekonomi justru mendapat tempat yang strategis dalam pembangunan.

Perjalanan pembangunan dalam sektor pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Hal itu dikarenakan sektor ini merupakan sektor yang tidak mendapatkan perhatian secara serius dari pemerintah dalam pembangunan bangsa. Mulai dari proteksi, kredit hingga kebijakan lain tidak satu pun yang menguntungkan bagi sektor ini. Program-program pembangunan pertanian yang tidak terarah tujuannya bahkan semakin menjerumuskan sektor ini pada kehancuran. Meski demikian sektor ini merupakan sektor yang sangat banyak menampung luapan tenaga kerja dan sebagian besar penduduk kita tergantung padanya.

Pembangunan pertanian di Indonesia dianggap penting dari keseluruhan pembangunan nasional. Beberapa hal yang mendasari pembangunan pertanian di Indonesia mempunyai peranan penting, antara lain; potensi sumber daya alam yang besar dan beragam, pangsa terhadap pendapatan nasional yang cukup besar, besarnya pangsa terhadap ekspor nasional, besarnya penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Potensi pertanian Indonesia yang besar namun pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak yang termasuk golongan miskin. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pada masa lalu bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor pertanian keseluruhan.

Secara tradisional, peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan sebagai unsur penunjang semata (Todaro dan Smith, 2006). Padahal proses pembangunan ekonomi merupakan salah satu redefenisi terus menerus atas peran-peran sektor pertanian, manufaktur, dan jasa (World Bank, 2008). Jika suatu wilayah menghendaki pembangunan yang lancar dan berkesinambungan, maka wilayah harus memulainya dari pedesaan pada umumnya, dan sektor pertanian pada khususnya (Todaro dan Smith, 2006). Ahluwalia dalam Tambunan (2010) kondisi ekonomi dengan sektor pertanian yang cukup besar, maka strategi pembangunan ekonomi yang tepat yaitu dengan mendahulukan sektor pertanian.

Peran pertanian menurut World Bank (2008) berkontribusi pada pembangunan sebagai sebuah aktivitas ekonomi, mata pencaharian dan sebagai cara untuk melestarikan lingkungan, sehingga sektor ini sebuah intrumen yang unik bagi pembangunan. Sebagai aktivitas ekonomi, pertanian dapat sebagai sumber pertumbuhan bagi perekonomian wilayah, penyedia investasi bagi sektor swasta dan sebagai penggerak utama industri-industri yang terkait bidang pertanian. Terkait dengan pertumbuhan wilayah, (Sukirno, 2006) menyatakan masalah pertumbuhan ekonomi dapat dibedakan dalam tiga aspek, yaitu ; masalah pertumbuhan yang bersumber pada perbedaan antara pertumbuhan potensial yang dapat dicapai dan tingkat pertumbuhan yang sebenarnya tercapai, masalah pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan meningkatkan potensi pertumbuhan itu sendiri,masalah pertumbuhan berkaitan dengan keteguhan atau stabilitas pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.

Kontribusi pertanian dalam pembangunan ekomomi (Todaro, 2011) yaitu; pertanian sebagai penyerap tenaga kerja, kontribusi terhadap pendapatan, kontribusi dalam penyediaan pangan,pertanian sebagai penyedia bahan baku, kontribusi dalam bentuk kapital.

Melalui konsepsi tersebut maka diharapkan mampu menumbuhkan sektor pertanian, sehingga pada gilirannya mampu menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perekonomian Indonesia, khususnya dalam hal pencapaian sasaran mensejahterakan petani, menyediakan lapangan pekerjaan, sebagai wahana pemerataan pembangunan antar wilayah, merupakan pasar input bagi agroindustri, menghasilkan devisa, meningkatkan pendapatan nasional, mempertahankan kelestarian sumber daya.

Ada beberapa faktor yang bisa diungkapkan bahwa sektor pertanian menjadi penting dalam proses pembangunan, yaitu; sektor pertanian menghasilkan produk yang diperlukan sebagai input sektor lain, terutama sektor industri (Agroindustri), sebagai negara agraris populasi disektor pertanian (pedesaan) membentuk proporsi yang sangat besar. Hal ini menjadi pasar yang sangat besar bagi produk- produk dalam negeri terutama produk pangan. Sejalan dengan itu ketahanan pangan yang terjamin merupakan prasyarat kestabilan sosial dan politik, sektor pertanian merupakan sumber daya alam yang memiliki keunggulan komparatif dibanding negara lain. Proses pembangunan yang ideal mampu menghasilkan produk-produk pertanian yang memiliki keunggulan komperatif baik untuk kepentingan ekspor maupun substitusi impor (Tambunan, 2009).

Negara Indonesia merupakan negara yang sejak dahulu dikenal sebagai negara agraris. Negara agraris meruapakan negara yang bertumpu pada sektor pertanian. Hal itu dikarenakan, hasil pertanian dan perkebunan dikenal sangat melimpah di negara ini hingga bisa diekspor ke beberapa negara. Sehingga hal itu bisa meningkatkan ekspor dan pendapatan ekonomi negara Indoensia dan menjadi penopang hidup masyarakat Indonesia khusunya para petani. Karena Indonesia menjadi negara agraris dan unggul di sektor pertaniannya maka banyak daerah-daerah di Indonesia sebagai lumbung padi dan berasnya bagi Indonesia.

 

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang terlah diuraikan di atas, maka terdapat rumusan masalah yang menjadi pokok bahasan dalam penulisan ini, yaitu :

1.   Apa pengertian dan peranan sektor pertanian ?

2.   Apa pengertian pembangunan pertanian dan peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi ?

 

Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :

1.    Mengetahui pengertian dan peranan sektor pertanian.

2.   Mengetahui pembangunan pertanian dan peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi.

 

  

 


PEMBAHASAN

Pengertian dan Peranan Sektor Pertanian

Secara umum pengertian dari pertanian adalah suatu kegiatan manusia yang termasuk didalamnya yaitu bercocok tanam, peternakan, perikanan dan juga kehutanan. Sebagian besar kurang lebih dari 50 persen mata pencaharian masyarakat di Indonesia adalah sebagai petani, sehingga sektor pertanian sangat penting untuk dikembangkan di negara kita.

Pengertian pertanian dalam arti sempit hanya mencakup pertanian sebagai budidaya penghasil tanaman pangan padahal kalau kita tinjau lebih jauh kegiatan pertanian dapat menghasilkan tanaman maupun hewan ternak demi pemenuhan kebutuhan hidup manusia.

Sedangkan pengertian pertanian yang dalam arti luas tidak hanya mencakup pembudidayaan tanaman saja melainkan membudidayakan serta mengelola dibidang perternakan seperti merawat dan membudidayakan hewan ternak yang bermanfaat bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat banyak seperti: ayam, bebek, angsa. Serta pemanfaatan hewan yang dapat membantu tugas para petani kegiatan ini merupakan suatu cakupan dalam bidang pertanian (Bukhori, 2014).

Pertanian merupakan sektor ekonomi yang utama di Negara-Negara Berkembang. Peran atau kontribusi sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi suatu negara menduduki posisi yang penting sekali. Hal ini antara lain disebabkan beberapa faktor (Totok Mardikanto, 2007:3). Pertama, sektor pertanian merupakan sumber persediaan bahan makanan dan bahan mentah yang dibutuhkan oleh suatu Negara. Kedua tekanan-tekanan demografis yang besar di negara-negara berkembang yang disertai dengan meningkatnya pendapatan dari sebagian penduduk menyebabkan kebutuhan tersebut terus meningkat. Ketiga, sektor pertanian harus dapat menyediakan faktor-faktor yang dibutuhkan untuk ekspansi sektor-sektor lain terutama sektor industri. Faktor-faktor ini biasanya berwujud modal, tenaga kerja, dan bahan mentah. Keempat, sektor pertanian merupakan sektor basis dari hubungan-hubungan pasar yang penting berdampak pada proses pembangunan. Sektor ini dapat pula menciptakan keterkaitan kedepan dan keterkaitan kebelakang yang bila disertai dengan kondisi-kondisi yang tepat dapat memberi sumbangan yang besar untuk pembangunan. Kelima, sektor ini merupakan sumber pemasukanyang diperlukan untuk pembangunan dan sumber pekerjaan dan pendapatan dari sebagian besar penduduk negara-negara berkembang yang hidup di pedesaan (Pratomo, 2010).

Sumbangan atau jasa sektor pertanian pada pembangunan ekonomi terletak dalam hal :

1.   Menyediakan surplus pangan yang semakin besar kepada penduduk yang kian meningkat;

2.   Meningkatkan permintaan akan produk industri dan dengan demikian mendorong keharusan diperluasnya sektor sekunder dan tersier;

3.   Menyediakan tambahan penghasilan devisa untuk impor barang-barang modal bagi pembangunan melalui eksport hasil pertanian terus-menerus;

4.   Meningkatkan pendapatan desa untuk dimobilisasi pemerintah; dan

5.   Memperbaiki kesejahteraan masyarakat.

Di negara terbelakang produksi pangan mendominasi sektor pertanian. Jika output membesar lantaran meningkatnya produktifitas, maka pendapatan para petani akan meningkat. Kenaikan pendapatan perkapita akan sangat15 meningkatkan permintaan pangan. Dalam perekonomian seperti itu elastisitas pendapatan permintaan adalah sangat tinggi yang bisanya bergerak antara 0,6 persen sampai 0,8 persen.

Peran nyata sektor pertanian sebagai tumpuan pembangunan ekonomi nasional pada masa krisis dan selama pemulihan ekonomi, maka sektor pertanian perlu diposisikan sebagai sektor andalan dan didukung secara konsisten dengan mengembangkan ekonomi yang bersifat resource based. Atas dasar tersebut, potensi perekonomian pedesaan diharapakan akan menjadi determinan dari perekonomian nasional secara keseluruhan dan dengan demikian perubahan yang terjadi pada struktur perekonomian pedesaan perlu dicermati terutama dampaknya terhadap struktur kesempatan kerja dan pendapatan di wilayah pedesaan (Resthiningrum, 2011).

 

Pembangunan Pertanian Dan Peranan Sektor Pertanian Dalam Pembangunan Ekonomi

Pembangunan seringkali diartikan pada pertumbuhan dan perubahan. Jadi, pembangunan pertanian yang berhasil dapat diartikan kalau terjadi pertumbuhan sektor pertanian yang tinggi dan sekaligus terjadi perubahan masyarakat tani dari kurang baik menjadi yang lebih baik. Seperti diketahui sektor pertanian di Indonesia dianggap penting. Hal ini terlihat dari peranan sektor pertanian terhadap penyediaan lapangan kerja, penyedia pangan, penyumbang devisa Negara melalui ekspor dan sebagainya (Soekartawi, 1995).

Disisi lain, didalam negeri juga dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti: (1) Dinamika permintaan pangan dan bahan baku industri; (2) Kelangkaan dan degradasi kualitas sumberdaya alam; dan (3) Manajemen pembangunan yang mencakup: (a) otonomi, dimana pembangunan dilaksanakan sesuai dengan UU nomor 32 Tahun 2004, tentang Pemerintahan Daerah, dan UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Pertimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, dan (b) partisipasi masyarakat, dimana pembangunan lebih diarahkan kepada peningkatan sebesar-besarnya peran serta masyarakat, sementara pemerintah berperan sebagai regulator, fasilitator, dan dinamisator.

Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah pendayagunaan secara optimal sumberdaya pertanian dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan, yaitu: (1) membangun sumber daya manusia aparatur profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) menumbuh kembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani (Apriyanto, 2005).

Pembangunan pertanian adalah meningkatkan produksi hasil usahatani. Untuk hasil-hasil ini perlu ada pasar serta harga yang cukup tinggi untuk menbayar kembali biaya-biaya tunai dan tenaga yang dipakai petani sewaktu mengerjakan usahataninya, untuk ini diperlukaan tiga hal, yaitu: (1) adanya tempat menjual hasil usahatani, (2) adanya penyalur untuk menjual hasil usahatani, dan (3) kepercayaan petani pada kelancaran sistem penjualan usahatani. (Mosher, 1965).

Posisi pertanian akan semakin strategis jika dilakukan perubahan pola pikir masyarakat yang awalnya cenderung memandang pertanian hanya sebagai penghasil (output) komoditas menjadi pola pikir yang melihat multi-fungsi dari pertanian, seperti agribisnis. Sistem agribisnis mengedepankan sistem budaya, organisasi dan manajemen yang rasional dan dirancang untuk memperoleh nilai tambah yang dapat disebar dan dinikmati oleh seluruh pelaku ekonomi secara fair dari petani produsen, pedagang dan konsumen.

Tsing (2010) mengatakan bahwa untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan kemajuan petani dibutuhkan kerjasama dengan pengambil kebijakan dalam hal meningkatkan pengetahuan petani agar mereka bisa mengembangkan hasilhasil pertaniannya.

Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting karena sebagian besar anggota masyarakat di negara-negara miskin menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Jika para perencana dengan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, maka satusatunya cara adalah dengan meningkatkan kesejahteraan sebagian besar anggota masyarakatnya yang hidup di sektor pertanian. Peran pertanian sebagai tulang punggung perekonomian nasional terbukti tidak hanya pada situasi normal, tetapi terlebih pada masa krisis (Gadang, 2010).

Para pemikir ekonomi telah lama menyadari bahwa sektor pertanian memiliki peranan yang besar dalam perekonomian, terutama dalam tahaptahap awal pembangunan. Sektor pertanian yang tumbuh dan menghasilkan surplus yang besar merupakan prasyarat untuk memulai proses transformasi ekonomi. Sektor non-pertanian, umumnya terlalu kecil untuk melakukan peranan itu. Peranan sektor pertanian dalam pembangunan ekonomi sangat penting karena sebagian besar anggota masyarakat di negara-negara miskin menggantungkan hidupnya pada sektor tersebut. Jika para perencana dengan sungguh-sungguh memperhatikan kesejahteraan masyarakatnya, maka satu-satunya cara dengan meningkatkan kesejahteraan sebagian besar anggota masyarakatnya yang hidup di sektor pertanian itu. Cara ini bisa ditempuh dengan jalan meningkatkan produksi tanaman pangan, tanaman perdagangan mereka dan atau dengan menaikkan harga yang mereka terima atas produkproduk yang mereka hasilkan, tentu saja tidak setiap kenaikan output akan menguntungkan sebagian besar penduduk pedesaan yang bergerak di bidang pertanian itu.

Pembangunan ekonomi berawal pada suatu lingkungan sosial, politik, dan teknologi yang menunjang kreativitas para wiraswasta. Adanya lingkungan yang menunjang kreativitas akan meimbulkan beberapa wiraswasta perintis yang mencoba menerapkan ide-ide baru dalam kehidupan ekonomi. Mungkin tidak semua perintis tersebut akan berhasil dalam melakukan inovasi. Bagi yang berhasil melakukan inovasi tersebut akan menimbulkan posisi monopoli bagi pencetusnya. Posisi monopoli ini akan menghasilkan keuntungan di atas keuntungan normal yang diterima para pengusaha yang tidak berinovasi. Keuntungan monopolistis ini merupakan imbalan bagi para innovator dan sekaligus juga merupakan rangsangan bagi para calon innovator. Hasrat untuk berinovasi terdorong oleh adanya harapan memperoleh keuntungan monopolistis tersebut. Inovasi mempunyai 3 pengaruh yaitu :

1.   Diperkenalkannya teknologi baru;

2.   Menimbulkan keuntungan lebih (keuntungan monopolistis)yang merupakan sumber dana penting bagi akumulasi modal.

3.   Inovasi akan diikuti oleh timbulnya proses peniruan (imitasi) yaitu adanya pengusaha-pengusaha lain yang meniru teknologi baru tersebut.

Proses peniruan (imitasi) tersebut di atas pada akhirnya akan diikuti oleh investasi (akumulasi modal) oleh para peniru (imitator) tersebut. Proses peniruan ini mempunyai pengaruh berupa:

1.   Menurunnya keuntungan monopolistis yang dinikmati oleh para inovator, dan

2.   Penyebaran teknologi baru di dalam masyarakat, berarti teknologi tersebut tidak lagi menjadi monopoli bagi pencetusnya.

Kesemua proses yang dijelaskan diatas meningkatkan output masyarakat dan secara keseluruhan merupakan proses pembangunan ekonomi. Sumber kemajuan ekonomi yang paling penting adalah pembangunan ekonomi tersebut (Khamdani, 2013).

 

 

PENUTUP

Peran nyata sektor pertanian sebagai tumpuan pembangunan ekonomi nasional pada masa krisis dan selama pemulihan ekonomi, maka sektor pertanian perlu diposisikan sebagai sektor andalan dan didukung secara konsisten dengan mengembangkan ekonomi yang bersifat resource based. Atas dasar tersebut, potensi perekonomian pedesaan diharapakan akan menjadi determinan dari perekonomian nasional secara keseluruhan dan dengan demikian perubahan yang terjadi pada struktur perekonomian pedesaan perlu dicermati terutama dampaknya terhadap struktur kesempatan kerja dan pendapatan di wilayah pedesaan.

Pembangunan pertanian pada hakekatnya adalah pendayagunaan secara optimal sumberdaya pertanian dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan, yaitu: (1) membangun sumber daya manusia aparatur profesional, petani mandiri dan kelembagaan pertanian yang kokoh; (2) meningkatkan pemanfaatan sumberdaya pertanian secara berkelanjutan; (3) memantapkan ketahanan dan keamanan pangan; (4) meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk pertanian; (5) menumbuh kembangkan usaha pertanian yang akan memacu aktivitas ekonomi perdesaan; dan (6) membangun sistem manajemen pembangunan pertanian yang berpihak kepada petani.

 



DAFTAR PUSTAKA

Apriyanto, Riyan HRA. 2005. Pengaruh Status dan Luas Lahan Usahatani Kentang (Solanum tuberosum L.) Terhadap Produksi dan Pendapatan Petani (Kasus: Desa Argalingga, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Propinsi Jawa Barat). Skripsi Fakultas Pertanian. IPB.

 

Bukhori, M. 2004. Sektor Pertanian Terhadap Pembangunan di Indonesia. [Skripsi]. Fakultas Pertanian Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran”. Surabaya.

 

Khamdani, Yossyia. 2013. Model Pemberdayaan Petani Cabai Melalui Perbaikan Rantai Nilai Distribusi. [Skripsi]. FE UNES. Semarang.

 

Gadang, Dimas. 2010. Analisis Peranan Sektor Pertanian Terhadap Perekonomian Jawa Tengah. [Skripsi]. FE UNDIP. Semarang.

 

Mardikanto, Totok. 2007. Penyuluhan Pembangunan Kehutanan. Pusat Penyuluhan Kehutanan Republik Indonesia. Jakarta.

 

Mosher, A.T. 1965. Menggerakan dan Membangunan Pertanian, terjemahan Ir. Krisnandhi. CV. Yasa Guna. Jakarta.

 

Pratomo, Satriyo. 2010. Analisis Peran Sektor Pertanian Sebagai Sektor Unggulan di Kabupaten Boyolali. [Skripsi]. FE UNS. Surakarta.

 

Resthiningrum. Raras. 2011. Keragaan dan Peranan Sektor Pertanian Dalam Perekonomian Wilayah di Kabupaten Blora, [Skripsi]. Fakultas Pertanian UNS. Surakarta.

 

Soekartawi. 1995. Linear Programming Teori dan Aplikasinya Khusus dalam Bidang Pertanian. Rajawali. Jakarta.

 

Sukirno, Sadono. 2006. Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan. Prenanda Media Group. Jakarta.

 

Tambunan, Tulus T.H. 2001. Perekonomian Indonesia; Teori dan Temuan Empiris. Ghalia. Indonesia. Jakarta.

 

                                       . 2009. UMKM di Indonesia. Ghalia Indonesia. Bogor.

 

                            . 2007. Makro Ekonomi Modern. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta.

 

Todaro, Michael P. 2011. Pembangunan Ekonomi. Erlangga. Jakarta.

 

Todaro, Michael P dan Smith, Stephen C. 2006. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Erlangga. Jakarta.

 

Word Bank. 2008. Conditional Cash Transfer in Indonesia. Program Keluarga Harapan and PNPM-Generasi Baseline Survey Report, June. 2008.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Issue Dampak Covid-19 Sektor Peranian di Indonesia

I.              DESKRIPSI MODUL        Modul ini dipersiapkan sebagai bahan perkuliahan Manajemen Agribisnis., materi yang akan dipelajari adalah tentang: 1.   Pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu 2.   Contoh kasus/fenomena/isu dalam agribisnis 3.   Respon/tanggapan terhadap kasus/fenomena/isu agribisnis. II.             TUJUAN PEMBELAJARAN 1.  Mahasiswa mampu menjelaskan pengertian kasus, studi kasus, fenomena dan isu. 2. Mahasiswa tertanam dan tumbuh minat, kesadaran dan perhatiannya terhadap kasus/fenomena/isu dalam agribisnis. 3.   Mahasiswa mampu memberikan respon/tanggapan terhadap kasus/fenomena/isu agribisnis. III.           TUGAS PEMBELAJARAN Dampak dari pandemi Covid-19 ini dirasakan disemua sektor, tidak terkecuali sektor pertanian dan UMKM pangan. Sektor Pertanian harus...

KEBIJAKAN-KEBIJAKAN DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN

PENDAHULUAN Latar Belakang Kebijakan pembangunan pertanian ditujukan untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengembangkan agribisnis dan meningkatkan kesejahteraan petani. Mengisyaratkan bahwa produk pertanian yang dihasilkan harus memenuhi syarat kuantitas, kualitas dan syarat keberlanjutan sehingga memiliki daya saing dan mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau. Pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral karena berperan dalam meletakkan dasar yang kokoh bagi perekonomian negara. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya penduduk atau tenaga kerja yang bekerja pada sektor pertanian. Sektor pertanian sangat diharapkan sebagai pemacu pertumbuhan ekonomi, baik sebagai penyedia atau sumber bahan baku industri maupun sektor andalan Indonesia selain minyak dan gas bumi. Dalam konsep pembangunan pertanian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari pembangunan nasional, yang memiliki warna sentral kare...

Pembangunan Pertanian Kabupaten Barito Kuala Provinsi Kalimantan Selatan

  B AB I PENDAHULUAN 1.1.      Latar Belakang Indonesia merupakan negara pertanian sebab perekonomian di Negara Indonesia lebih banyak berasal dari sektor pertanian, dan hal itu dapat kita lihat dari besarnya kesempatan kerja dan besarnya jumlah penduduk yang masih tergantung pada sektor pertanian (Adisasmita, 2006). Sebagian besar mata pencaharian penduduk di Indonesia adalah berasal dari sektor peertanian. Sektor ini memberi sumbangan yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) (Firdaus, 2012). Di Indonesia memiliki dua jenis padi yang dibudidayakan yaitu padi unggul dan padi lokal. Sedangkan varietasnya ada berbagai macam varietas yang dibudidayakan. Seperti padi unggul ada beberapa contohnya padi ciherang, inpara 2 dan inpari 42. Sedangkan untuk padi lokal contohnya padi siam mutiara, padi siam mayang, padi siam unus, padi siam arjuna, padi siam mayang. Pembangunan pertanian di Indonesia tidak lepas dari Rencana Pembangunan Nasional. Di...