PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah
ekonomi yang dihadapi oleh negara berkembang sangat berbeda dengan masalah yang
dihadapi oleh negara maju. Di negara berkembang, jumlah banyaknya pengangguran
dan perkembangan penduduk yang cepat merupakan masalah yang sangat serius. masalah
ini menjadi bertambah serius lagi sebagai akibat dari bertambah cepatnya
perkembangan penduduk. Disebabkan keadaan yang seperti ini maka timbullah
keperluan yang mendesak untuk mempercepat pembangunan di negara-negara
tersebut; yaitu agar pendapatan masyarakat dapat ditingkatkan, masalah penduduk
diatasi, dan masalah pengangguran tidak menjadi bertambah serius.
Di
pihak lain, walaupun terhadapa keperluan yang mendesak untuk mempercepat
pembangunan ekonomi, negara-negara tersebut memmpunyai kemampuan yang sangat
terbatas untuk melaksanakan pembangunan. Jumlah alat-alat modalnya masih
terbatas, tingkat tabungan masyarakatnya relatif rendah, terhadap kekurangan
yang serius dalam jumlah tenaga usahawan dan tenaga ahli lainnya yang sanggup
mengembangkan kegiatan ekonomi, dan kegiatan ekonomi lainnya sebagian tertumpu
pada kegiatan pertanian yang produktivitasnya masih tetap rendah. Sifat-sifat
ekonominya ini menghalangi negara-negara berkembang untuk melaksanakan pencepatan
dalam laju pembangunan.
Di
negara maju, tingkat pertambahan ponduduk jauh lebih rendah dari negara
berkembang dan tingkat pengangguran yang dihadapi tidak separah seperti yang
terdapat di negara berkembang. Tingkat teknologi yang digunakan dalam proses
produksi sangat tinggi, cukup tersedia para tenaga ahli dan tenaga usahawan
dalam masyarakat, alat modal dan tabungan cukup banyak dan kegiatan di sektor
industri menguasai keseluruhan kegiatan perekonomian. Keadaan ini memmungkinkan
negara maju mencapai tingkat pendapatan dan kesejahteraan yang tinggi.
Dalam paper ini akan ditelaah dan dibahas kesesuaian dari dua teori ekonomi konvensional yang paling asas, yaitu teori makroekonomi dan mikroekonomi untuk digunakan dalam menganalisis berbagai aspek dari kegiatan ekonomi dan sebagai landasan dalam merumuskan kebijakan pembangunan di negara berkembang.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang yang terlah diuraikan di atas, maka terdapat rumusan masalah
yang menjadi pokok bahasan dalam penulisan ini, yaitu :
1. Apa yang dimaksud
dengan pandangan pokok analisis mikro ekonomi dan makro ekonomi ?
2. Apa itu proses
multiplier di negara-negara berkembang ?
3. Apa yang dimaksud
dengan kebijakan moneter di negara-negara berkembang
?
4. Apa yang dimaksud
dengan kebijakan fiskal di negara-negara berkembang
?
5. Apa saja yang dimaksud mekanisme pasar di negara-negara berkembang ?
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui pandangan pokok
analisis mikro ekonomi dan makro ekonomi.
2. Mengetahui
proses multiplier di
negara-negara berkembang.
3. Mengetahui kebijakan moneter di negara-negara berkembang.
4. Mengetahui kebijakan fiskal di negara-negara berkembang.
5. Mengetahui mekanisme pasar di negara-negara berkembang.
PEMBAHASAN
Pandangan
Pokok Analisis Mikro Ekonomi Dan Makro Ekonomi
Dapat di lihat bahwa pada hakikatnya di negara-negara berkembang
terdapat pengangguran yang sangat serius dan masalah ini menjadi bertambah
serius lagi sebagai akibat dari bertambah cepatnya perkembangan penduduk. Di
sebabkan keadaan yang seperti ini maka timbullah keperluan yang mendesak untuk mempercepat
pembangunan di negara negara tersebut: yaitu agar pendapatan masyarakat dapat
di tingkatkan, masalah penduduk di atas, dan masalah pengangguran menjadi
bertambah serius.
Di pihak lain, walaupun
terdapat keperluan yang mendesak untuk mempercepat pembangunan ekonomi,
negara-negara tersebut mempunyai kemampuan yang sangat terbatas untuk
melaksanakan pembangunan. Jumlah alat-alat modalnya masih terbatas, tingkat
tabungan masyarakatnya relatif rendah, terdapat kekurangan yang serius dalam
jumlah tenaga usahawan dan tenaga ahli lainnya yang sanggup mengembangkan
kegiatan ekonomi, dan kegiatan ekonominya sebagian besar tertumpu pada kegiatan
pertanian yang produktivitasnya masih tetap rendah. Sifat-sifat ekonominya ini
menghalangi negara-negara berkembang untuk melaksanakan percepatan dalam laju
pembangunannya.
Di negara negara maju keadaan
ekonomi dan corak-corak masalah ekonomi yang di hadapi sangat berbeda dengan
yang di hadapi oleh negara negara berkembang. Tingkat pertambahan penduduknya
jauh lebih rendah daripada di negara-negara berkembang pada umumnya dan tingkat
pembangunan yang di hadapi tidaklah seburuk seperti yang terdapat di
negara-negara berkembang. Yang lebih penting lagi, tingkat teknologi yang
digunakan dalam proses produksi sangat tinggi, dalam masyarakat cukup terdapat
tenaga-tenaga ahli dan tenaga-tenaga sektor industri menguasai keseluruhan
kegiatan perekonomian. Keadaan ini memungkinkan mereka mencapai tingkat
pendapatan dari tingkat kesejahteraan yang tinggi. Oleh karena itu usaha untuk meningkatkan pendapatan dan
memperlaju pembangunan bukanlah keperluan yang mendesak.
Asas-asas Analisa Mikro Ekonomi
Ilmu Ekonomi Mikro mempelajari
variabel-variabel ekonomi dalam lingkup kecil misalnya perusahaan, rumah
tangga. Dalam ekonomi mikro mempelajari tentang bagaimana individu menggunakan
sumber daya yang dimilikinya sehingga tercapai tingkat kepuasan yang optimum.
Teori ekonomi dapat dibedakan dalam tiga bagian yaitu: teori harga, teori
produksi dan teori distribusi. Teori harga pada hakikatnya menjelaskan B
tentang corak permintaan dan penawaran yang pada umumnya terdapat dalam suatu
pasar, dan interaksi antara kedua-duanya dalam menentukan tingkat harga dan
jumlah barang yang di perdagangkan. Teori harga juga menganalisa sebab-sebab
permintaan masyarakat menjadi bertambah tinggi apabila dan sebaliknya
permintaan menjadi bertambah kecil apabila harga naik. Aspek lain yang di
analisa dalam teori mikro ekonomi adalah mengenai masalah teori distribusi
pendapatan di antara berbagai faktor produksi. Dalam analisa ini yang di bahas
adalah cara-cara pendapatan masing-masing faktor produksi di tentukan dalam
setiap perekonomian. Analisa mikro ekonomi memisalkan pula bahwa setiap pelaku
dalam perekonomian tersebut pada setiap waktu mengetahui peristiwa-peristiwa
yang terjadi di pasar dan mempunyai mobilitas yang sangat tinggi sehingga
mudah menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan yang terjadi di pasar.
Isu-isu Utama Dalam Analisis Mikro Ekonomi
Analisis-analisis dalam teori
mikro ekonomi bertitik tolak dari pandangan yang menganggap bahwa faktor-faktor
produksi atau sumber-sumber yang dimiliki masyarakat adalah terbatas, sedangkan
keinginan manusia tidak terbatas sehingga masyarakat membuat pilihan-pilihan.
Kegiatan memilih ini perlu dibedakan menjadi dua aspek, yaitu kegiatan
memproduksi dan menggunakan barang dan jasa. Kedua kegiatan ini merupakan
isu-isu utama yang dianalisis dalam teori mikroekonomi.
Masalah memilih tersebut dianalisis dalam teori mikroekonomi dengan mengemukakan tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama yaitu apakah jenis-jenis barang dan jasa yang harus diproduksikan?. Pertanyaan kedua yaitu bagaimanakah caranya memproduksi berbagai barang dan jasa yang dibutuhkan oleh para konsumen?. Dengan demikian, aliran-aliran pendapatan yang berlaku sebagai akibat kegiatan memproduksi barang dan jasa akan dapat memecahkan pertanyaan ketiga yaitu untuk siapakah barang dan jasa perlu diproduksikan?.
Asas-asas Analisa Makro Ekonomi
Ilmu ekonomi makro mempelajari
variabel-variabel ekonomi secara agregat (keseluruhan). Variabel-variabel
tersebut antara lain: pendapatan nasional, kesempatan kerja dan atau
pengangguran, jumlah uang beredar, laju inflasi, pertumbuhan ekonomi, maupun
neraca pembayaran internasional.
Salah satu pandangan yang
paling fundamentil dalam teori makro ekonomi adalah bahwa tingkat kegiatan
dalam sewaktu tertentu tergantung pada pengeluaran berbagai golongan masyarakat
pada waktu tersebut. Fungsi dari para pengusaha hanyalah untuk menyediakan
barang-barang dan jasa-jasa yang di perlukan oleh masyarakat, oleh sebab itu
tingkat produksi mereka di tentukan oleh tingkat pengeluaran seluruh
masyarakat.
Berdasarkan sifat-sifatnya,
pengeluaran seluruh masyarakat dibedakan dalam lima golongan yaitu :
1. Pengeluaran seluruh rumah tangga
2. Penanaman modal oleh para pengusaha
3. Pengeluaran pemerintah
4. Export ke luar negeri
5. Import dari luar negeri
Tingkat pengeluaran rumah tangga terutama
tergantung pada pendapatan mereka. Oleh sebab itu pengeluaran rumah tangga
bukanlah merupakan faktor yang terutama yang menyebabkan perubahan dalam
pendapatan nasional dari masa ke masa. Import suatu masyarakat di tentukan oleh
pendapatan mereka. Oleh sebab itu juga ia bukan merupakan penentu yang terutama
dari perubahan-perubahan dalam pendapatan nasional. Ketiga faktor lainnya
adalah :
1. Penanaman modal oleh perusahaan perusahaan
2. Pengeluaran modal oleh pemerintah
3. Ekspor di tentukan oleh faktor-faktor lain di luar tingkat
pendapatan masyarakat
Tingkat penanaman modal terutama di tentukan oleh tingkat bunga pengeluaran pemerintah di tentukan oleh pertimbangan politik dan usaha untuk mencapai tingkat kesempatan kerja penuh yang diikuti dari kestabilan harga (full employment without inflation) dan eksport di tentukan oleh keadaan permintaan di luar negeri serta daya saing produksi dalam negeri di pasaran dunia. Perubahan faktor-faktor tersebut merupakan hal yang terutama yang menyebabkan perubahan dalam pendapatan nasional. Dari ketiga jenis pengeluaran tersebut, penanaman modal perusahaan merupakan modal perusahaan merupakan pengeluaran yang perubahannya dari masa ke masa sangat besar sekali. Pada suatu tahun tertentu penanaman modal dapat mencapai jumlah yang sangat tinggi, tetapi pada tahun berikutnya dapat pula merosot dan mencapai tingkat yang jauh lebih rendah daripada tahun sebelumnya. Perubahan ketiga jenis pengeluaran tersebut akan menyebabkan perubahan yang lebih besar dalam pendapatan nasional disebabkan karena perubahan dalam salah satu gabungan dari ketiga jenis pengeluaran tersebut akan menciptakan suatu proses yang akan menimbulkan suatu rangkaian tambahan pendapatan dan pengeluaran yang baru, proses tersebut dinamakan Proses Multiplier.
Kelemahan-Kelemahan
Analisis Makro Ekonomi
Salah satu alasan lain yang menyebabkan analisis makro ekonomi
digunakan lebih berhati-hati di negara berkembang adalah analisis lebih menekan
kepada menelaah masalah-masalah ekonomi yang digunakan dalam jangka pendek.ini
berbeda dengan corak analisis yang di gunakan di negara berkembang.analisi yang
di gunakan pada negara berkembang lebih menekankan kepada analisis kepada
masalah-masalah pembangunan.
1. Analisis merupakan analisis jangka pendek
Bahwa analisis
makroekonomi pada dasarnya merupakan analisis jangka pendek, dapat di buktikan
kepada pemisalan yang di buat dalam teori tersebut. Dari sifat-sifat analisis
dapat di simpulkan antara lain dapat memisalkan keadaan-keadaan berikut:
kapasitas alat-alat produksi tetap, jumlah tenaga kerja tidak berubah, dan
tidak terdapat perbaikan dalam tingkat teknologi yang digunakan.
2. Tidak menganalisis faktor non-ekonomi
Tidak terdapat analisis
mengenai pengaruh keadaan sosial, struktur sosial, suasana politik, nilai-nilai
hidup, corak pandangan masyarakat dan corak kebudayaan masyarakat terhadap
kegiatan masyarakat dan corak kebudayaan masyarakat terhadap kegiatan ekonomi meruapakan kelemahan lain
dari makroekonomi.
3. Kurang memperhatikan sektor luar negri
Dalam analisis makro
ekonomi penanaman modal oleh pengusaha di pandang sebagai sektor penting
menentukan tingkat kegiatan ekonomi. Sedangkan faktor luar negeri tidak
memegang peranan seperti penanaman modal.
Kelemahan teori makroekonomi yang baru dinyatakan ini sudah lama disadari oleh ahli-ahli ekonomi. Untuk memperbaikinya, dengan dipelopori oleh Harrod dan Domar[1], ahli-ahli ekonomi sesudah Keynes mulai menelaah kembali mengenai berbagai persoalan pertumbuhan ekonomi. Tetapi bahagian ini bukanlah bahagian yang terutama dari teori makro ekonomi. Lagi pula teori-teori perturnbuhan yang dikembangkan tersebut juga masih belum cukup memadai untuk digunakan dalam menganalisa masalah-masalah pembangunan yang dihadapi negara-negara berkembang, dan untuk landasan dalam merumuskan kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan. Antara lain kelemahan teori-teori tersebut adalah terlalu mengagungkan peranan modal dalam pembangunan, mengabaikan peranan faktor-faktor bukan ekonomi (non-ekonomi) dalam pembangunan, dan beberapa pemisalan-pemisalan yang digunakan dalam teori-teori tersebut jauh berbeda dengan kenyataan yang terdapat di negara-negara berkembang.
Proses Multiplier di Negara-Negara Berkembang
Apabila sesuatu perekonomian
menghadapi masalah pengangguran, maka haruslah dilakukan pertambahan dalam
pengeluaran masyarakat. Besarnya pertambahan pengeluaran yang perlu dilakukan
supaya tingkat kesempatan kerja penuh dapat dicapai tergantung kepada dua
faktor: besarnya kecondongan konsumsi batas dan besarnya jurang diantara
pendapatan nasional pada kesempatan kerja penuh dan pendapatan nasional yang
sekarang tercapai. Makin tinggi kecodongan konsumsi batas, makin besar
multiplier yang akan diciptakan oleh sejumlah pertambahan dalam pengeluaran.
Dengan demikian ini berarti pula bahwa makin tinggi kecondongan konsumsi batas,
makin sedikit pula pertambahan dalam pendapatan nasional dan untuk mencapai
kesempatan kerja penuh.
Di negara-negara berkembang
bagian yang terbesar dari pendapatan masyarakat digunakan untuk konsumsi.
Sebagai akibatnya kecondongan konsumsi batas di negara-negara tersebut adalah
lebih tinggi daripada di negara-negara maju. Dengan demikian, berdasarkan
kepada teori multiplier, di negara-negara berkembang meningkatkan pendapatan
masyarakat merupakan masalah yang lebih mudah kalau dibandingkan dengan di
negara-negara maju.
Tetapi pada kenyataannya
keadaan yang berlaku di negara-negara berkembang yang ditimbulkan oleh adanya
pertambahan dalam pengeluaran adalah jauh berbeda dengan keadaan yang
diramalkan dalam teori multiplier. Di negara-negara berkembang pengeluaran yang
berlebih-lebihan mungkin akan mengakibatkan inflasi walaupun dalam perekonomian
tersebut masih terdapat masih terdapat banyak pengangguran. Ini disebabkan
karena (i) kemampuan dari perekonomian tersebut untuk menambah produksi lebih
terbatas kalau dibandingkan dengan kemampuan dari negara-negara maju; dan (ii)
corak kegiatan ekonomi di negara-negara berkembang sangat berbeda dengan di
negara-negara maju., yaitu di negara-negara berkembang sektor tradisionil
menguasai sebagian besar kegiatan ekonomi. Kedua-dua faktor ini merupakan
penyebab terpenting yang mengakibatkan proses multiplier tidak dapat berjalan
secara semestinya.
Proses multiplier seperti yang digambarkan
dalam analisa makro ekonomi tidak dapat berlangsung seperti yang diharapkan
karena di negara-negara berkembang sektor produksi mempunyai kemampuan yang
lebih terbatas untuk menaikkan jumlah barang di pasar apabila permintaan
berkembang dengan cepat. Analisa makro ekonomi selanjutnya juga dianggap bahwa
sektor perusahaan bersifat responsif terhadap rangsangan-rangsangan yang
terjadi di pasar.
Setelah mengamati kesesuaian
teori makro ekonomi di negara-negara berkembang, maka dapatlah dikatakan bahwa,
agar proses multiplier berjalan seperti dengan keadaan yang diramalkan,
perekonomian tersebut haruslah mempunyai beberapa sifat-sifat berikut:
1. Dalam masyarakat terdapat banyak pengangguran dan para penganggur
ini bukan saja terdiri dari tenaga kerja yang biasa, tetapi juga tenaga
terdidik, tenaga usahawan dan tenaga kerja yang berpengalaman di bidang industri.
2. Berbagai jenis industri, terutama industri barang-barang konsumsi,
masih mempunyai kelebihan kapasitas dan dapat dengan mudah memperbesar tingkat
produksinya.
3. Bahan-bahan mentah yang diperlukan oleh industri-industri tersebut
dapat diperoleh dengan mudah, sehingga tidak akan menjadi hambatan dalam usaha
menaikkan produksi.
4. Barang-barangyang diproduksikan di dalam negeri mempunyai kualitas yang sama baiknya dengan barang-barang yang diimport dari luar negeri.
Kebijaksanan Moneter di Negara-Negara Berkembang
Sebagai akibat dari kurang
sempurnanya analisa makro ekonomi dalam menggambarkan corak kegiatan ekonomi di
negara-negara berkembang, maka kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dikenukakan
dalam teori makro ekonomi mempunyai kemampuan yang lebih terbatas dalam
mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapi mereka. Oleh sebab itu perlulah
dibuat penyesuaian-penyesuaian agar alat-alat kebijaksanaan ekonomi yang
konvensionil dapat digunakan secara lebih bermanfaat oleh negara-negara
berkembang dan dapat mencapai sasarannya.
Satu pemisalan penting yang
digunakan sebagai titik tolak dalam analisa makro ekonomi adalah bahwa
perekonomian merupakan suatu masyarakat yang menjalankan kegiatan tukar-menukar
secara efisien. Di dalam perekonomian yang mempunyai sifat-sifat yang demikian
tingkat pengeluaran masyarakat dapat diatur dengan mempengaruhi penawaran uang
dalam masyarakat atau dengan mempengaruhi tingkat bunga. Kebijaksanaan
pemerintah untuk tujuan demikian dinamakan kebijaksanaan moneter. Ia dapat
dibedakan dalam beberapa jenis kebijaksanaan: (a) merubah tingkat cadangan
minimum bank-bank komersiil; (b) merubah tingkat bunga dari pinjaman bank
sentral kepada bank-bank komersiil; (c) mengadakan operasi pasar terbuka; dan
(d) menentukan prioritas dari jenis-jenis pinjaman yang dapat diberikan oleh
bank-bank komersiil kepada para langganan mereka (selective credit control).
Pemerintah melalui bank
sentral, harus menggunakan kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut untuk mengaruhi
pengeluaran masyarakat ke arah yang dihendaki. Pada waktu resesi dan tingkat
pengangguran tinggi, pemerintah harus berusaha mempertinggi pengeluaran seluruh
masyarakat dengan cara mempertinggi penawaran uang dalam masyarakat.
Di negara-negara berkembang
kebijaksanaan moneter yang demikian mempunyai kemampuan yang terbatas dalam
mempengaruhi perubahan penawaran uang dan pengeluaran masyarakat. Ada beberapa
faktor yang dapat menimbulkan keadaan ini, yaitu:
1. Bank-bank komersiil pada umumnya mempunyai cadangan yang
berlebihan. Oleh karenanya perubahan dalam tingkat cadangan minimum tidak akan
banyak mempengaruhi kegiatan mereka untuk meminjamkan uang kepada para
pengusaha dan masyarakat.
2. Kelebihan dalam cadangan menyebabkan bank-bank komersiil jarang
sekali meminjam dari Bank sentral.
3. Pasar uang dan pasar modal masih belum sempurna keadaannya di
negara-negara berkembang. Ini menyebabkan operasi pasar terbuka tidak dapat
dijalankan efektif.
4. Sistem bank belum mencapai tingkat perkembangan yang tinggi; hanya
sebagian kecil saja dari masyrakat berhubungan dengan badan tersebut. Dengan
demikian kebijaksanaan moneter hanya mempengaruhi sebagian kecil saja dari
seluruh kegiatan perekonomian.
Dengan adanya
kelemahan-kelemahan ini bukanlah berarti bahwa kebijaksanaan moneter tidak
dapat digunakan sama sekali di negara-negara berkembang. Kebijaksanaan moneter
masih tetap besar peranannya dalam menciptakan kesetabilan ekonomi di
negara-negara berkembang. Tetapi bentuk kebijaksanaan yang harus dilaksanakan
haruslah disesuaikan dengan masalah-masalah yang sebenarnya di hadapi oleh
negara-negara berkembang. Karena uang tunai (uang kertas dan uang logam)
merupakan bagian terbesar dari penawaran uang, maka kebijaksanaan moneter bukan
saja harus ditujukan untuk mempengaruhi penawaran yang diciptakan oleh sistem
bank, tetapi harus pula meliputi usaha untuk mempengaruhi penawaran uang tunai
dalam masyarakat.
Pertambahan penduduk dan
pendapatan masyarakat sebagai akibat dari usaha dan kegiatan pembangunan
menyebabkan dari tahun ke tahun penawaran uang harus ditambah. Berarti salah
satu tugas dari kebijaksanaan moneter adalah untuk menyediakan pertambahan
penawaran uang yang cukup sehingga usaha-usaha pembangunan dapat berjalan
dengan lancar. Dan di masa terjadi kelebihan permintaan dan inflasi, penawaran
uang harus di kurangi. Di negara-negara berkembang kebijasanaan ini harus
mencangkup juga kebijaksanaan untuk mempengaruhi penawaran uang tunai dalam
masyarakat, yaitu dengan berusaha menarik uang tersebut dari tangan masyarakat,
sehingga akan menurunkan tingkat pengeluarannya. Pengalaman di negara kita
dalam mengatasi inflasi pada tahun 1966-69 menunjukkan bahwa usaha yang
demikian dapat mencapai hasil yang diharapkan.
Tugas kebijaksanaan moneter di
negara-negara berkembang pada umumnya adalah jauh lebih berat dan rumit jika
dibandingkan dengan di negara-negara maju. Ada beberapa faktor yang menyebabkan
hal ini. Pertama, tugas untuk menciptakan penawaran uang yang cukup sehingga
pertambahannya dapat selalu selaras dengan jalannya pembangunan memerlukan
disiplin yang kuat di kalangan penguasa moneter dan juga di pihak pemerintah.
Kenaikan harga-harga akan berlaku. Seperti telah diuraikan sebelum ini, sifat
dari penawaran barang dinegara-negara
berkembang adalah lebih kurang elastis kalau dibandingkan dengan di
negara-negara maju. Maka pertambahan penawaran uang yang terlalu cepat lebih
mudah menimbulkan inflasi di negara-negara berkembang. Dengan demikian
peminjaman yang berlebih-lebihan oleh pemerintah kepada Bank sentral bukan akan
mendorong kepada perluasan kegiatan ekonomi tetapi akan menaikkan tingkat harga
barang-barang.
Kedua, Bank sentral di
negara-negara berkembang harus secara lebih teliti dan berhati-hati mengawasi
perkembangan penerimaan valuta asing dan mengawasi kegiatan dalam sektor luar
negeri (ekspor dan import). Kegiatan di sektor ini sangat mudah menimbulkan
inflasi dinegara-negara tersebut, karena selalu berlakunya keadaan naik turun
harga-harga bahan mentah yang diekspor mereka. Akibat dari naik turunnya
pendapatnya ekspor kepada kestabilan ekonomi dan kelancaran pembangunan. Dari
uraian itu dapat disimpulkan tentang pentingnya menghindari akibat-akibat yang
tidak menguntungkan tersebut. Sebagian dari tugas tersebut dipikul oleh
kebijaksanaan moneter.
Akhirnya tugas kebijaksanaan moneter adalah untuk membantu mempercepat proses pembangunan dengan mengembangkan lebih lanjut badan-badan keuangan yang telah ada di negara-negara berkembang. Badan-badan keuangan dapat membantu mempertinggi pembentukan modal dalam sesuatu masyarakat; yaitu dengan mendorong masyarakat untuk melakukan tabungan di dalam badan-badan keuangan dan selanjutnya mengalirkan tabungan ini kepada para pengusaha. Tabungan yang diciptakan ini memungkinkan para pengusaha mendapatkan modal yang diperlukan untuk mengembangkan kegiatan perdagangan dan membangun industri-industri. Oleh karna itu, untuk melancarkan jalannya pembangunan perlulah digalakkan perkembangan badan-badan keuangan dan pasar modal. Disamping itu juga kebijaksanaan moneter harus menjalankan langkah-langkah yang menjamin agar modal atau tabungan yang dikumpulkan dapat diarahkan penggunaannya kepada kegiatan-kegiatan yang lebih produktif. Langkah-langkah ini akan membantu mempercepat proses pembangunan ekonomi. Sedangkan pembangunan ekonomi memerlukan perluasan pinjaman kepada sektor industri dan pertanian. Untuk menjamin agar dana tabungan yang diciptakan akan mengalir ke dua-dua sektor itu, perlulah dilakukan pengawasan oleh pemerintah melalui bank sentral dengan melaksanakan kebijaksanaan yang sesuai untuk tujuan tersebut.
Kebijakan Fiskal di Negara-Negara Berkembang
Kebijakan Fiskal adalah
kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah dalam bidang pengeluaran dan pendapatannya dengan tujuan untuk menciptakan
tingkat kesempatan yang tinggi tanpa inflasi. Atau dengan kata lain, Kebijakan
Fiskal adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan kondisi
perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan jalan mengubah penerimaan dan
pengeluaran pemerintah. Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk
mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih menekankan pada
pengaturan pendapatan dan belanja pemerintah. Instrumen kebijakan fiskal adalah
penerimaan dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan pajak.
Kebijaksanaan pemerintah yang
pertama adalah menaikkan pajak pendapatan rumah tangga. Kebijaksanaan ini akan
menyebabkan jumlah pendapatan yang dapat dibelanjakan masyarakat berkurang,
sehingga akan mengakibatkan penurunan dalam tingkat konsumsi masyarakat.
Kebijaksaan fiskal yang kedua adalah mengurangi pengeluaran pemerintah sendiri,
sehingga dapat menciptakan kelebihan dalam anggaran belanjanya (pendapatan
pemerintah lebih besar daripada pengeluarannya).
Masalah pengangguran yang
terdapat di negara-negara berkembang tidak dapat diatasi dengan menurunkan tingkat
pajak yang dikenakan kepada masyarakat dan dengan menaikkan pengeluaran
pemerintah. Di negara-negara berkembang jumlah tenaga kerja sangat
berlebih-lebihan kalau dibandingkan dengan faktor produksi lainnya. Alat-alat
modal yang terdapat di negara-negara berkembang jumlahnya relatif terbatas.
Oleh sebab itu pertambahan yang terlalu besar dalam pengeluaran pemerintah,
penanaman modal para pengusaha dan pengeluaran seluruh rumah tangga, bukan akan
meningkatkan kegiatan ekonomi dan mengatai masalah pengangguran, tetapi
sebaliknya akan menimbulkan kenaikan harga-harga.
Di negara-negara berkembang
inflasi dapat terjadi di dalam keadaan di mana pengangguran yang meluas masih
terdapat. Di samping itu, di negara-negara berkembang pendapatan pemerintah
yang diperoleh dari pajak secara relatif adalah lebih rendah daripada yang
diterima di negara-negara maju. Dan yang dikumpulkan itupun terutama dari pajak
tidak langsung bukan dari pajak pendapatan. Walaupun alat-alat kebijaksanaan
fiskal yang tradisionil tidak menciptakan hasil yang sama efektifnya dengan di
negara-negara maju, apabila kebijaksanaan fiskal yang dijalankan dengan
sungguh-sungguh memperhatikan keadaan di negara-negara berkembang, maka ia
dapat memegang peranan yang sangat penting di dalam usaha untuk mempercepat
proses pembangunan.
Pertama-tama, dengan
menjalankan kebijaksanaan fiskal yang lebih berhati-hati (konservatif) dari di
negara-negara maju, yaitu dengan selalu menjaga agar pengeluaran pemerintah
tetap dalam keadaan seimbang dan menghindari melakukan pengeluaran yang
berlebih-lebihan, kebijaksanaan tersebut dapat mengurangi kemungkinan
terjadinya inflasi. Kedua, kebijaksanaan fiskal dapat digunakan untuk
mempengaruhi corak penggunaan sumber-sumber daya. Perbelanjaan pemerintah di
suatu sektor akan dapat mengalahkan penanaman modal yang lebih besar di sektor
tersebut, sedangkan pajak yang tinggi di suatu sektor akan membatasi dorongan
kepada para pengusaha untuk menjalankan kegiatan di sektor tersebut.
Akhirnya, kebijaksanaan fiskal dapat digunakan untuk mempertinggi tingkat penanaman modal. Tujuan ini dapat dicapai dengan meningkatkan pajak disektor-sektor tertentu. Dengan demikian, perangsang-perangsang fiskal memegang dua peranan penting dalam pembangunan, yaitu sebagai alat untuk mempertinggi efisiensi penggunaan sumber daya dan sebagai alat untuk memperbesar jumlah pembentukan modal.
Mekanisme Pasar di Negara Berkembang
Salah satu aspek yang sering
sekali dibahas dalam menilai sampai di mana bergunanya teori ekonomi yang
tradisionil untuk menganalisa dan merumuskan kebijaksanaan pembangunan di
negara-negara berkembang adalah menelaah keefektifan mekanisme pasar untuk
menciptakan efisiensi yang tinggi dalam menggunakan sumber-sumber daya dan
dalam menciptakan pembangunan yang pesat. Dalam bentuk yang lebih spesifik
analisa tersebut menilai pula kesesuaian berbagai aspek dari teori mikroekonomi
apabila digunakan untuk menganalisa tingkah laku berbagai pelaku ekonomi di
negara-negara berkembang.
Menurut Boeke sifat-sifat
berikut terdapat di kalangan penduduk di negara-negara berkembang. Pertama,
penduduknya mempunyai permintaan yang terbatas. Ini terbukti dari terdapatnya
penawaran tenaga kerja yang menurun kembali apabila tingkat upah sudah melebihi
tingkat cukup hidup. Kedua, usaha dan kegiatan mereka lebih ditekankan untuk
memenuhi keperluan sosial dan bukan untuk memenuhi keperluan ekonomi. Dalam
masyarakat itu pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan untuk mencari keuntungan
sangat terbatas. Memang dalam masyarakat tersebut banyak terdapat kegiatan yang
bersifat spekulatif, tetapi kegiatan yang menekankan kepada usaha mencari
keuntungan jangka panjang jumlahnya relatif lebih terbatas.
Ketiga, masyarakat di
negaranegara itu kurang mempunyai disiplin dalam pekerjaan, kemampuannya untuk
menciptakan organisasi yang baik masih terbatas dan kurang mempunyai keahlian
dalam berbagai kegiatan usaha. Sifat-sifat ini berbeda sekali dengan yang
dimisalkan dalam analisa mikroekonomi, yang antara lain menganggap bahwa
permintaan masyarakat tidak terbatas, kegiatan utama masyarakat terutama
ditujukan untuk memenuhi keperluan ekonomi, para pelaku dalam perekonomian
mempunyai kemampuan berorganasasi secara efisien dan pengetahuannya mengenai
keadaan pasar adalah tinggi dan memungkinkan mereka mengambil keputusan yang paling
ekonomis.
Kritik yang lebih baru, yang
lebih penting dan lebih serius implikasinya terhadap perkembangan analisa
mengenai pembangunan ekonomi dan dalam merumuskan kebijaksanaan pembangunan,
adalah kritik-kritik yang dinamakan oleh Myint sebagai: kritik terhadap
relevansi dari teori mikroekonomi dan mekanisme pasar untuk menganalisa
persoalan-persoalan pembangunan di negara-negara berkembang[2]. Para ahli
ekonomi yang tergolong sebagai pengkritik terhadap relevansi teori mikroekonomi
tidak tertarik kepada persoalan apakah analisaanalisa dasar dalam teori
mikroekonomi dan teori ekonomi konvensionil pada umumnya seperti analisa
permintaan dan penawaran, misalnya, dapat menjelaskan sifat-sifat dari kegiatan
ekonomi yang berlaku di negara-negara berkembang.
Myint membedakan berbagai
kritik mengenai relevansi mekanisme pasar di negara-negara berkembang dalam
empat golongan:
1. Kritik yang pertama menekankan bahvia terdapat perbedaan di antara
tingkat kesempurnaan mekanisme pasar di negara-negara maju dan di negara-
negara berkembang.
2. Kritik yang kedua didasarkan kepada pandangan bahwa masalah yang
paling penting yang dihadapi negara-negara berkembang adalah masalah kelebihan
tenaga kerja dan kekurangan sumber-sumber daya lainnya, terutama modal dan
kekayaan alam.
3. Kritik jenis ketiga didasarkan kepada pandangan bahwa
negara-negara berkembang terperangkap dalam suatu keadaan seimbang yang sangat
stabil pada tingkat pendapatin yang rendah (in a very stable low income
equilibrium).
4. Kritik yang terakhir didasarkan kepada pandangan bahwa
kekuatan-kekuatan dalam pasar bebas mempunyai kecenderungan untuk mengekalkan
atau memperburuk keadaan ketidakseimbangan yang sekarang terdapat dalam pasar.
Dari kritik-kritik di atas maka secara umum dapatlah disimpulkan bahwa dengan hanya meng gunakan sistem mekanisme pasar, negara-negara berkembang tidak akan dapat mengatasi masalah-masalah ekonomi yang dihadapinya dan tidak akan dapat menciptakan pembangunan ekonomi yang pesat. Oleh sebab itu negaranegara berkembang perlu menjalankan kebijaksanaan-kebijaksanaan baru yang sifatnya adalah sebagai pengganti dan pelengkap dari kebijaksanaan-kebijaksanaan yang berdasarkan kepada sistem mekanisme pasar atau pasar bebas.
PENUTUP
Di negara-negara maju keadaan ekonomi
dan corak-corak masalah-masalah ekonomi yang dihadapi sangat berbeda dengan
yang dihadapi oleh negara-negara berkembang. Tingkat pertambahan penduduknya
jauh lebih rendah daripada di negara-negara bekembang pada umumnya dan tingkat
pengangguran yang dihadapi tidaklah seburuk seperti yang terdapat di
negara-negara berkembang. Yang lebih penting lagi, tingkat teknologi yang
digunakan dalam proses produksi sangat tinggi, dalam masyarakat cukup terdapat
tenaga-tenaga ahli dan tenaga-tenaga usahawan, alat-alat modal dan tabungan
cukup banyak tersedia, dan kegiatan di sektor industri menguasai keseluruhan
kegiatan perekonomian, keadaan-keadaan ini memungkinkan mereka mencapai tingkat
pendapatan dan tingkat kesejahteraan yang tinggi. Oleh karenanya usaha untuk
meningkatkan pendapatan dan memperlaju pembangunan bukanlah merupakan yang
mendesak.
Negara Indonesia yang sedang
dilanda krisis ekonomi yang berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Dimana
Tingginya tingkat krisis yang dialami negeri kita ini diindikasikan dengan laju
inflasi yang cukup tinggi. Sebagai dampak atas inflasi, terjadi penurunan
tabungan, berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang tidak di gunakan.
Permasalahan-permasalahan yang terjadi di negara-negara berkembang selalu meliputi, masalah ketidakstabilan kegiatan ekonomi, masalah pertumbuhan ekonomi, masalah pengangguran dan masalah kenaikan harga inflasi. Diharapkan bisa terselesaikan dengan adanya kebijaksanaan-kebijaksanaan fiskal dan moneter dan kebijaksanaan lainnya.
DAFTAR
PUSTAKA
Arsyad, Lincolin. 1988. Ekonomi Pembangunan. Edisi Pertama. STIE YKPN.
Yogyakarta.
. 1999. Ekonomi Pembangunan. Edisi Empat. STIE YKPN. Yogyakarta.
. 2005. Pengantar Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah. Edisi Kedua.
BPFE-YOGYAKARTA. Yogyakarta.
Jhingan, M.L. 2012. Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Edisi Keenambelas.
Rajawali Pers. Jakarta.
Sadono, Sukirno. 2006. Ekonomi Pembangunan : Proses, Masalah, Dasar Kebijakan. Edisi Kedua. Jakarta.
Komentar
Posting Komentar